SURABAYA (Lentera) - Banyaknya pasar tradisional dan desa wisata di Indonesia belum otomatis menjadikannya destinasi unggulan. Persoalan utama justru terletak pada lemahnya identitas dan keunikan tiap ruang wisata, sehingga sulit bersaing dan menarik minat wisatawan.
Guru Besar Universitas Ciputra, Prof. Astrid Kusumowidagdo, menilai pengembangan ruang komersial tradisional di Indonesia selama ini masih terlalu berfokus pada kuantitas, bukan kualitas pengalaman.
"Banyak ruang komersial tradisional kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa dan sulit bersaing sebagai destinasi wisata," ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Melalui penelitiannya bertajuk "Discovering the Soul of Space", ia menekankan pentingnya membangun "soul of space" atau jiwa sebuah tempat. Konsep ini merupakan perpaduan antara ruang fisik, aktivitas manusia, serta budaya lokal yang membentuk pengalaman khas bagi pengunjung.
Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional, namun hanya sekitar 5–10 persen yang berkembang menjadi pasar wisata berkarakter kuat. Sementara dari sekitar 7.000 desa wisata, baru sebagian yang mampu menghadirkan produk kreatif unggulan dan pengalaman autentik.
Sejumlah contoh dinilai berhasil menghadirkan identitas kuat, seperti Pasar Ubud, Malioboro, dan Pasar Terapung Lok Baintan. Ketiganya mampu memadukan aktivitas ekonomi, budaya, dan kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik wisata yang khas.
Menurut Astrid, wisatawan modern kini tidak hanya mencari tempat, tetapi juga pengalaman yang bermakna. Pengalaman tersebut lahir dari interaksi manusia, cerita lokal, serta aktivitas yang hidup di dalam ruang tersebut.
Karena itu, pengembangan tidak cukup hanya melalui renovasi fisik atau pembangunan infrastruktur. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis lokal (place-based), budaya (culture-based), dan komunitas (community-driven).
"Yang dibangun bukan hanya fisik, tetapi juga aktivitas, cerita, dan pengalaman hidup masyarakat. Ini yang menciptakan sense of place," jelasnya.
Sense of place, lanjutnya, terbentuk dari tiga aspek utama. Diantaranya kualitas fisik ruang, pengalaman hidup masyarakat (lived experience), serta narasi historis yang melekat pada suatu tempat. Ketiganya harus dikemas menjadi satu kesatuan yang kuat.
Ke depan, konsep tersebut dapat diturunkan dalam berbagai bentuk pengembangan, mulai dari produk industri kreatif hingga strategi place branding. Hal ini dinilai penting untuk menciptakan destinasi yang tidak hanya menarik secara wisata, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.
"Keunikan tempat adalah aset terbesar kita. Dari situlah nilai sejati pariwisata Indonesia terbentuk," tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi




.jpg)
