SURABAYA ( LENTERA ) - Pembagian waktu dalam satu jam menjadi 60 menit merupakan sistem yang telah digunakan sejak sekitar 5.000 tahun lalu. Sistem ini berasal dari peradaban kuno dan masih dipertahankan hingga kini sebagai standar global dalam pengukuran waktu.
Sejarah mencatat bahwa sistem bilangan berbasis 60 atau seksagesimal pertama kali digunakan oleh peradaban Sumeria di wilayah Mesopotamia. Bangsa Sumeria memanfaatkan sistem ini dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perhitungan waktu dan kegiatan astronomi.
Penggunaan angka 60 dipilih karena memiliki banyak faktor pembagi, seperti 2, 3, 4, 5, dan 6. Keunggulan ini memudahkan pembagian waktu ke dalam unit yang lebih kecil secara akurat dan fleksibel. Dalam praktiknya, sistem ini sangat membantu dalam aktivitas pengukuran dan pengamatan, terutama yang berkaitan dengan siklus alam.
Sistem tersebut kemudian diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut oleh bangsa Babilonia. Dalam peradaban ini, penggunaan sistem seksagesimal semakin diperkuat, khususnya dalam bidang astronomi. Pengamatan terhadap pergerakan benda langit menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penggunaan sistem ini secara luas.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa sistem berbasis angka 60 tidak hanya terbatas pada pembagian waktu. Konsep ini juga diterapkan dalam pembagian 60 detik dalam satu menit serta 360 derajat dalam satu lingkaran. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara sistem waktu dan sistem pengukuran lainnya yang digunakan manusia.
Seiring berjalannya waktu, sistem tersebut diwariskan kepada peradaban Yunani dan Romawi. Kedua peradaban ini berperan dalam menyebarkan dan mempertahankan sistem pembagian waktu tersebut hingga ke berbagai wilayah dunia.
Memasuki era modern, pembagian satu jam menjadi 60 menit tetap digunakan dan telah menjadi standar internasional. Sistem ini digunakan secara luas dalam berbagai bidang, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga keperluan ilmiah dan teknologi.
Meskipun berbagai inovasi teknologi terus berkembang, sistem pembagian waktu ini tidak mengalami perubahan signifikan. Hal ini disebabkan oleh tingkat efisiensi dan konsistensi sistem yang telah terbukti selama ribuan tahun.
Pembagian satu jam menjadi 60 menit bukan sekadar kebiasaan, melainkan hasil dari perkembangan pengetahuan manusia sejak peradaban kuno yang terus bertahan dan digunakan hingga saat ini. (Nabilla – mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)
Lini Masa Perkembangan Jam
1. Era Kuno (Jam Alam)
3500 SM - Jam Matahari: Manusia pertama kali menggunakan bayangan matahari (gnomon) untuk menentukan siang dan malam.
1400 SM - Jam Pasir & Jam Air (Clepsydra): Digunakan untuk mengukur waktu saat tidak ada matahari, terutama populer di Mesir kuno.
2. Era Mekanis (Abad Pertengahan)
Abad ke-14 - Jam Mekanis Menara: Muncul di Eropa, menggunakan pemberat untuk menggerakkan mesin. Richard of Wallingford menciptakan salah satu yang tercanggih pada 1326.
1510 - Jam Saku/Portabel (Nuremberg Egg): Peter Henlein dari Jerman menciptakan jam tangan portabel pertama dengan pegas baja.
3. Era Presisi (Modern Awal)
1656 - Jam Pendulum: Christian Huygens menciptakan jam pendulum pertama, meningkatkan akurasi drastis.
Abad ke-17 & 18 - Jam Dinding/Rumah: Pendulum diaplikasikan ke jam berukuran lebih kecil, termasuk Grandfather clock.
4. Era Arloji dan Industri
Awal 1800-an - Chronograph: Louis Moinet menciptakan chronograph pertama (1816) untuk astronomi, lalu dikembangkan untuk pacuan kuda.
1926 - Jam Tangan Otomatis: Rotor diciptakan untuk memutar pegas otomatis dengan gerakan tangan.
5. Era Digital dan Kuarsa
1922/1929 - Jam Quartz: Alter G. Cady menciptakan jam yang menggunakan getaran listrik kristal kuarsa, jauh lebih akurat daripada jam mekanis.
1957 - Jam Tangan Elektrik: Hamilton Watch Company memperkenalkan jam elektrik pertama.
1967 - Jam Atom: Getaran cesium digunakan untuk akurasi tertinggi.
1969 - Jam Tangan Quartz Pertama: Seiko meluncurkan Astron, memicu revolusi jam kuarsa yang terjangkau.
1983 - Jam Digital G-Shock: Casio memperkenalkan jam tangan digital yang sangat tahan banting.
Abad 21 - Smartwatch: Era konektivitas, di mana jam terhubung ke internet dan ponsel (misal: Apple Watch, Samsung Galaxy Watch)




.jpg)
