SURABAYA ( LENTERA ) - Fenomena hujan deras yang masih mengguyur sejumlah wilayah Indonesia di tengah ancaman kemarau panjang akibat El Nino menimbulkan kebingungan di masyarakat. Banyak yang mempertanyakan, apakah prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meleset?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika iklim yang sedang berada dalam fase transisi.
“Ini bukan berarti prediksi BMKG salah, tetapi memang ada proses peralihan musim yang menyebabkan hujan masih terjadi di beberapa wilayah,” ujarnya.
Sinyal Kemarau Panjang Sudah Terlihat
Sonni mengungkapkan bahwa indikasi kemarau panjang tetap terdeteksi, terutama dari kenaikan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur.
Kondisi ini merupakan tanda berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan di Indonesia.
“Musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih lama, sekitar enam bulan,” jelasnya.
Tak hanya itu, awal musim kemarau juga diprediksi datang lebih cepat, khususnya di Pulau Jawa yang biasanya memasuki musim kering pada Juli.
Apa Itu El Nino Godzilla?
Istilah “El Nino Godzilla” merujuk pada kategori super El Nino, yakni ketika suhu muka laut meningkat hingga 2,5 derajat Celcius atau lebih di atas normal.
Fenomena ekstrem ini pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015, yang berdampak pada kekeringan parah serta kebakaran hutan di Indonesia.
Meski begitu, Sonni menilai kondisi saat ini belum mencapai level yang mengkhawatirkan.
Ada Kaitan dengan Aktivitas Matahari?
Menariknya, penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara kekuatan El Nino dengan aktivitas bintik matahari (sunspot).
Berdasarkan data selama 35 tahun, El Nino kuat cenderung terjadi setelah fase maksimum sunspot.
“Sunspot maksimum tahun 2025 berpotensi diikuti El Nino kuat pada 2026,” tambah Sonni.
Namun, ia menegaskan bahwa temuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitannya secara ilmiah. (Nabilla – mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)



.jpg)
