14 April 2026

Get In Touch

Kapal Tanker China Aman-aman Saja Lewati Hormuz meski Ada Blokade AS, Kenapa?

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025 (AFP)
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025 (AFP)

SURABAYA (Lentera) -Sebuah kapal tanker milik China yang masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat (AS) dilaporkan tetap dapat melintas di Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026), meski Washington sebelumnya menyatakan akan memblokade jalur strategis tersebut.

Data pelacakan pelayaran dari LSEG, MarineTraffic, dan Kpler menunjukkan kapal tanker bernama Rich Starry berhasil melewati selat sempit yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia itu.

Kapal ini bahkan menjadi yang pertama keluar dari kawasan Teluk sejak kebijakan blokade diumumkan.

Rich Starry diketahui merupakan kapal tanker berukuran menengah (medium-range) yang tengah mengangkut sekitar 250.000 barel metanol. Muatan tersebut diambil dari pelabuhan terakhirnya di Hamriyah, Uni Emirat Arab.

Sebagaimana dilansir Reuters, kapal ini dimiliki oleh perusahaan pelayaran Shanghai Xuanrun Shipping Co Ltd, yang sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat karena diduga terlibat dalam aktivitas perdagangan dengan Iran.

Hingga saat ini, pihak perusahaan disebut belum memberikan tanggapan resmi terkait pelayaran tersebut.

Selain itu, data juga menunjukkan bahwa seluruh awak kapal Rich Starry merupakan warga negara China.

Tak cuma Rich Starry

Tak hanya Rich Starry, kapal tanker lain yang juga masuk dalam daftar sanksi AS, yakni Murlikishan, dilaporkan turut bergerak menuju Selat Hormuz pada hari yang sama.

Berbeda dengan Rich Starry yang membawa muatan, Murlikishan tercatat sebagai kapal tanker berukuran kecil (handysize) yang saat ini dalam kondisi kosong.

Kapal ini diperkirakan akan memuat bahan bakar minyak di Irak pada 16 April mendatang.

Murlikishan sebelumnya dikenal dengan nama MKA dan tercatat pernah mengangkut minyak dari Rusia maupun Iran, dua negara yang juga berada di bawah tekanan sanksi Barat.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran krusial yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat ini setiap harinya, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak pasar energi global.

Meski Amerika Serikat telah menyatakan langkah blokade sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran, data terbaru ini menunjukkan bahwa lalu lintas kapal tertentu masih tetap berlangsung, termasuk oleh kapal-kapal yang telah masuk dalam daftar sanksi.

Perkembangan ini menambah dinamika baru di kawasan Timur Tengah, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas implementasi blokade yang diumumkan Washington.

China sempat tanggapi blokade AS

Sebelumnya, China sendiri sempat menegaskan bahwa rencana blokade di Selat Hormuz tidak sejalan dengan kepentingan komunitas internasional.

Sikap ini disampaikan Beijing di tengah meningkatnya ketegangan menyusul rencana AS untuk membatasi lalu lintas maritim yang keluar-masuk pelabuhan Iran.

Pemerintah China menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.

Tanpa secara langsung menyebut Amerika Serikat, Beijing mengisyaratkan bahwa langkah-langkah sepihak berpotensi memperburuk situasi.

Dikutip dari BBC, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam pertemuan dengan utusan khusus Presiden Uni Emirat Arab untuk China, Khaldoon Khalifa Al Mubarak, di Beijing, menekankan bahwa blokade di Selat Hormuz tidak melayani kepentingan bersama masyarakat internasional.

Menurut Wang, China memahami kekhawatiran keamanan negara-negara di kawasan Teluk.

Namun, ia menegaskan bahwa solusi utama tetap harus ditempuh melalui jalur diplomasi, termasuk mendorong gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan.

Senada dengan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan pihaknya berharap semua pihak menahan diri dan tetap berkomitmen pada penyelesaian damai.

“China berharap pihak-pihak terkait tetap berkomitmen menyelesaikan sengketa melalui cara politik dan diplomatik, serta menghindari dimulainya kembali konflik bersenjata,” ujarnya yang dikutip dari Kompas.

Ia menambahkan, China siap memainkan peran yang “positif dan konstruktif” dalam membantu meredakan ketegangan yang terjadi.

Sementara dalam artikel lain, BBC menyinggung bahwa kebijakan blokade AS bisa membuat situasi kawasan menjadi semakin kompleks mengingat adanya kepentingan negara lain, terutama China dan Rusia, yang memiliki hubungan erat dengan Iran.

Muncul pertanyaan apakah AS akan berani menaiki (boarding) atau bahkan menyita kapal yang dimiliki oleh perusahaan China atau Rusia? Risiko eskalasi konflik dibseut terbuka menjadi sangat nyata. Terlebih, China memiliki pangkalan militer di Djibouti, tidak jauh dari kawasan tersebut.

Jika China memutuskan untuk mengawal kapal-kapalnya dengan kekuatan militer, maka potensi konfrontasi langsung dengan AS akan semakin besar.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati perairan sempit ini.

China bagaimanapun tercatat sebagai penerima terbesar minyak mentah dari jalur tersebut, dengan porsi sekitar 31 persen dari total pengiriman. India berada di posisi berikutnya dengan sekitar 14 persen.

Secara keseluruhan, sekitar 86 persen minyak yang melintasi Selat Hormuz dikirim ke negara-negara di Asia.

Karena itu, gangguan sekecil apa pun di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi di pasar global, serta mengguncang stabilitas ekonomi dunia.

Dengan tingginya ketergantungan global terhadap Selat Hormuz, rencana blokade AS terhadap Iran kini bukan hanya menjadi isu geopolitik, melainkan juga ancaman nyata bagi rantai pasok energi dunia (*)

Editor: Arifin BH

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.