SURABAYA ( LENTERA ) - Kondisi langit malam di Bumi kian mengkhawatirkan setelah studi terbaru menemukan adanya lonjakan polusi cahaya global sebesar 16 persen hanya dalam kurun waktu sembilan tahun. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini menunjukkan bahwa dampak cahaya buatan tidak hanya merusak pemandangan langit, tetapi juga mengancam keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia secara serius.
Tim internasional yang dipimpin oleh Tian Li dan Zhe Zhu dari University of Connecticut melakukan pengamatan mendalam terhadap 1,16 juta citra satelit harian. Cakupan penelitian ini meliputi 3,51 juta kilometer persegi wilayah berpenghuni di seluruh dunia.
Data yang dikumpulkan antara tahun 2014 hingga 2022 mencatat bahwa secara akumulatif, langit malam mengalami peningkatan kecerahan bersih sebesar 16 persen. Angka peningkatan ini tercatat melampaui laju pertumbuhan populasi manusia dunia, yang mengindikasikan bahwa penggunaan cahaya buatan berkembang lebih masif daripada pertambahan penduduk itu sendiri.
Meskipun secara global Bumi tampak kian terang, para peneliti menekankan bahwa perubahan di tingkat lokal menunjukkan tren yang sangat beragam. Profesor Christopher Kyba dari Ruhr-Universität Bochum menjelaskan bahwa narasi "seluruh dunia menjadi terang" perlu dilihat dengan skala yang lebih halus.
Data menunjukkan bahwa angka 16 persen tersebut sebenarnya merupakan gabungan dari kondisi yang kontradiktif.
Diketahui, 34 persen area mengalami pencerahan (menjadi lebih terang). Selanjutnya, 18 persen area justru mengalami peredupan secara global.
Sementara, 51 persen wilayah mengalami perubahan secara bertahap dab 14 persen wilayah mengalami perubahan intensitas cahaya secara mendadak.
Penelitian ini mampu melacak tren hingga tingkat piksel untuk memahami dinamika perubahan malam hari. Pencerahan mendadak biasanya dikaitkan dengan lokasi konstruksi baru atau proyek infrastruktur besar yang menggunakan lampu intensitas tinggi.
Sebaliknya, peredupan mendadak sering kali berhubungan dengan ketidakstabilan energi, konflik wilayah, dan gangguan sosial lainnya. Di sisi lain, studi ini memberikan kabar baik bahwa wilayah terpencil dan cagar alam masih relatif stabil dan terjaga dari polusi cahaya karena minimnya aktivitas penduduk.
Risiko Kesehatan
Peningkatan polusi cahaya dalam beberapa dekade terakhir dipicu oleh penggunaan lampu LED yang lebih efisien secara energi, namun sering kali memancarkan spektrum cahaya yang mengganggu lingkungan. Cahaya buatan yang berlebihan berdampak buruk pada siklus hidup tanaman dan hewan, serta dikaitkan dengan kondisi kesehatan serius pada manusia, termasuk risiko penyakit Alzheimer.
Namun, para ahli mengakui adanya tantangan dalam pemantauan ini. Saat ini hanya ada dua satelit utama milik Amerika Serikat dan China yang mampu menyediakan pandangan resolusi tinggi di malam hari. Kyba menyebutkan bahwa pemantauan Bumi dari ruang angkasa pada malam hari masih berada di tahap awal jika dibandingkan dengan kecanggihan data observasi siang hari.
Studi ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat global bahwa cahaya buatan yang tidak terkontrol memiliki konsekuensi jangka panjang bagi kehidupan di Bumi. (Ist/dya)



.jpg)
