TEHERAN (Lentera) -Iran menargetkan dapat memulihkan 70 hingga 80 persen kapasitas fasilitas pengolahan dan distribusi minyak yang rusak dalam waktu satu hingga dua bulan, kata Wakil Menteri Perminyakan Mohammad Sadeq Azimifar, Ahad (12/4).
“Untuk sebagian besar infrastruktur pengolahan dan distribusi yang rusak, kami dapat memulihkan 70-80 persen dari kapasitas sebelumnya dalam waktu satu hingga dua bulan, dan kemudian dalam jangka menengah hingga panjang, kami dapat memulihkan 100 persen kapasitas seperti sebelum penyerbuan Amerika Serikat-Israel,” ujar Azimifar seperti dikutip kantor berita Iran SNN.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas agresi militer itu dengan menyerang wilayah Israel serta target militer Amerika Serikat di Timur Tengah, sebagai bentuk pertahanan diri.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran pada Selasa (7/4).
Lewat harus bayar 2 juta dolar AS
Mengutip Antara, Iran berencana membatasi jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz tidak lebih dari sekitar 12 unit per hari, dengan biaya yang berpotensi mencapai hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp34,2 miliar) per kapal tanker raksasa, demikian dilaporkan The Wall Street Journal.
Menurut laporan tersebut, para pemilik kapal dari sejumlah negara tengah bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk dapat melintasi Selat Hormuz.
Media itu juga menyebutkan bahwa sejumlah kapal yang diizinkan melintas harus melalui jalur yang telah ditentukan secara khusus serta memperoleh izin yang diperlukan.
Pada Rabu (8/4) malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dengan Iran mengenai gencatan senjata selama dua pekan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kemudian mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum/minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) dunia (*)
Editor: Arifin BH



.jpg)
