12 April 2026

Get In Touch

Tambah Relawan, UB Perluas Ruang Aman Mahasiswa Hadapi Masalah Kesehatan Mental

Ketua Panitia, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (foto: Humas UB)
Ketua Panitia, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (foto: Humas UB)

MALANG (Lentera) - Universitas Brawijaya (UB) menambah jumlah relawan peer counselor sebagai upaya memperluas ruang aman bagi mahasiswa, dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan mental. 

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya didorong untuk lebih terbuka dalam berbagi cerita, tetapi juga mendapatkan akses pendampingan awal yang lebih dekat, cepat, dan berbasis teman sebaya.

"Setelah mengikuti program pelatihan, para relawan peer counselor akan bertugas selama satu tahun untuk melakukan upaya promotif dan preventif kesehatan mental," ujar Ketua Panitia, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Minggu (12/4/2026).

Diketahui, pelatihan Peer Counselor diselenggarakan oleh Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan UB pada Sabtu (11/4/2026).

Pelatihan diikuti oleh relawan peer counselor serta perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan organisasi mahasiswa dari berbagai fakultas.

Ulifa menambahkan, para relawan akan memberikan pendampingan awal bagi mahasiswa yang membutuhkan, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Dalam pelaksanaannya, mereka juga akan berkolaborasi dengan berbagai organisasi kemahasiswaan.

Menurut Ulifa, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penanganan mahasiswa yang telah mengalami masalah, tetapi juga menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini.

"Jadi tidak hanya intervensi pada mahasiswa yang sudah memiliki masalah, tetapi juga bagaimana mencegah agar tidak masuk ke kelompok berisiko," jelasnya.

Lebih lanjut, peserta pelatihan juga akan mengikuti rangkaian pelatihan lanjutan. Materi yang diberikan mencakup peningkatan keterampilan pendampingan hingga penanganan kondisi darurat, sehingga relawan memiliki kesiapan yang lebih komprehensif.

Program ini terbuka tidak hanya bagi perwakilan fakultas, tetapi juga mahasiswa umum yang mendaftar secara sukarela. Skema ini menjadi salah satu strategi UB untuk memperluas akses layanan dukungan psikologis berbasis teman sebaya.

UB berharap kesadaran dan literasi kesehatan mental di kalangan sivitas akademika dapat meningkat. Mahasiswa diharapkan mampu mengenali kondisi diri, mengelola tekanan, serta mengembangkan potensi secara optimal, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik.

Ulifa menegaskan, keberadaan peer counselor diharapkan dapat menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mencari bantuan tanpa rasa takut atau stigma.

"Harapannya, sivitas akademika dapat meningkatkan kesadaran dan literasi kesehatan mental, supaya dapat mengenali dirinya dengan baik serta mampu mengembangkan potensi diri secara optimal," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.