MALANG (Lentera) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur mengingatkan, musim cuaca ekstrem meningkatkan potensi puting beliung yang dapat terjadi secara tiba-tiba, disertai hujan lebat dan angin kencang, terutama pada siang hingga sore hari.
"Secara klimatologis, awal musim kemarau di Malang Raya rata-rata terjadi di awal Mei. Itu sudah menjadi pola atau pakem yang terjadi setiap tahunnya," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, Rabu (8/4/2026).
Namun sebelum memasuki musim kemarau, kata Anung, masyarakat akan lebih dulu menghadapi fase musim peralihan atau pancaroba. Pada fase inilah dinamika cuaca cenderung tidak stabil dan berpotensi memicu cuaca ekstrem.
Dijelaskannya, salah satu ciri utama musim peralihan adalah munculnya awan cumulonimbus yang berkembang secara cepat. Fenomena ini biasanya diawali dengan kondisi cuaca cerah dan panas terik pada pagi hari.
"Menjelang siang biasanya mulai muncul awan putih yang bentuknya seperti bunga kol. Lalu siang hingga sore berkembang menjadi awan gelap, itu yang kita sebut cumulonimbus," jelasnya.
Di bawah awan cumulonimbus tersebut, lanjut Anung, terdapat potensi berbagai cuaca ekstrem seperti hujan lebat dengan intensitas tinggi, hujan es, angin kencang, hingga puting beliung dan badai guntur.
Ia menegaskan, pada periode pancaroba seperti saat ini, aktivitas awan cumulonimbus menjadi lebih aktif. Hal ini berdampak pada meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem.
"Kalau dulu mungkin puting beliung hanya terjadi di titik-titik tertentu, sekarang cakupannya bisa lebih luas. Frekuensinya juga meningkat dibandingkan kondisi normal," katanya.
Selain itu, karakteristik hujan pada musim peralihan juga berbeda dibanding musim hujan. Hujan cenderung turun secara tiba-tiba dengan intensitas tinggi, namun dalam durasi yang relatif singkat. "Biasanya terjadi pada siang hingga menjelang sore hari. Hujannya lebat, tapi tidak berlangsung lama," imbuhnya.
Kondisi ini, menurut Anung, berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir genangan, pohon tumbang, hingga kerusakan bangunan akibat angin kencang.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara cepat, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hingga sore hari.
BMKG juga mengingatkan agar masyarakat rutin memantau informasi prakiraan cuaca yang telah dirilis secara resmi sebagai langkah mitigasi dini terhadap potensi bencana.
"Peralihan musim ini akan berlangsung hingga wilayah Malang Raya benar-benar memasuki musim kemarau secara resmi pada awal Mei nanti," pungkasnya.
Reporter:Santi Wahyu|Editor: Arifin BH




.jpg)
