08 April 2026

Get In Touch

ITS Kembangkan Bensin dari Sawit, Lebih Efisiensi dan Rendah Emisi

Peneliti dari ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc saat memamparkan proses dan hasil produksi Bensin Sawit dengan metode temuannya di hadapan awak media
Peneliti dari ITS Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc saat memamparkan proses dan hasil produksi Bensin Sawit dengan metode temuannya di hadapan awak media

SURABAYA (Lentera) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan metode produksi bensin berbahan dasar kelapa sawit yang lebih efisien, terukur, dan rendah emisi.

Inovasi yang dikenal sebagai bensin sawit atau biogasoline ini dikembangkan oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Dr Eng Hosta Ardhyananta, bersama tim peneliti. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati, mengatakan, inovasi tersebut relevan dengan kondisi geopolitik global yang berdampak pada pasokan energi, termasuk di kawasan ASEAN.

“Inovasi ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian energi, terutama di tengah ketidakpastian pasokan BBM dunia,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Sementara itu, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Dr Eng Hosta Ardhyananta, menjelaskan, penelitian ini berfokus pada bagaimana mengubah minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) menjadi bensin siap pakai dengan proses yang lebih efisien dan minim limbah.

Metode yang digunakan adalah catalytic cracking, yaitu teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis.

Pada tahap awal, tim menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang mampu mengubah CPO menjadi biogasoline dengan tingkat konversi sekitar 60 persen. Namun, proses ini membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Pengembangan kemudian dilakukan dengan menggunakan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO). Kombinasi ini terbukti lebih efektif.

“Hasilnya, suhu operasi bisa diturunkan menjadi sekitar 380 derajat Celsius, sementara hasil biogasoline meningkat hingga 83 persen,” jelas Hosta.

Ia menuturkan, produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, proses ini juga menghasilkan produk samping yang tetap bermanfaat.

Gas hasil produksi dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cair bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, misalnya untuk kompor.

“Dengan demikian, konsep yang kami kembangkan mendekati zero waste karena hampir semua hasil samping bisa dimanfaatkan kembali,” tambahnya.

Dari sisi lingkungan, riset ini juga mengacu pada life cycle assessment (LCA). Hasilnya menunjukkan jejak karbon produksi biogasoline dari sawit tergolong rendah, sehingga mendukung konsep energi bersih dan berkelanjutan.

Inovasi ini telah diuji coba pada mesin pertanian yang relatif fleksibel terhadap penggunaan bahan bakar alternatif. Harapannya, teknologi ini dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada bensin berbasis minyak bumi yang harganya fluktuatif.

Selain itu, pengembangan teknologi dalam negeri ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap peralatan dan teknologi impor di sektor migas.

"Ke depan, tim ITS berencana meningkatkan skala produksi agar teknologi ini bisa diterapkan lebih luas dan berkontribusi dalam menjawab tantangan krisis energi nasional," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar inovasi ini dapat diuji coba sebagai bagian dari proyek nasional

“Minimal inovasi ini bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi,” tutupnya.

Reporter: Amanah/Editor:Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.