JAKARTA (Lentera) - Ancaman baru Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terhadap Iran kembali mengguncang pasar keuangan global.
Melansir laporan Bloomberg, pernyataan keras Trump yang kembali mengancam akan menyerang infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tetap ditutup memicu aksi jual di Wall Street.
Indeks S&P 500 tercatat turun 0,4 persen pada pembukaan perdagangan Senin (6/4/2026). Di saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent melonjak 1 persen hingga menyentuh level US$110 per barel.
Tak hanya itu, Trump juga memunculkan spekulasi baru setelah mengunggah pernyataan misterius terkait waktu tertentu. "Selasa (7/4/2026), pukul 20.00 Waktu Timur!" tulisnya tanpa memberikan penjelasan lanjutan.
Peringatan dari OPEC+ turut memperburuk sentimen. Mereka menegaskan kerusakan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah berpotensi berdampak jangka panjang terhadap pasokan minyak global, bahkan setelah konflik berakhir.
Hingga kini serangan masih berlangsung di berbagai titik kawasan, menjaga harga minyak tetap bertahan di atas US$100 per barel dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Homin Lee, analis strategi dari Lombard Odier, mengatakan "Fokus investor saat ini tertuju pada perkembangan militer di kawasan Teluk Persia dan kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz."
Dampak konflik mulai merembet ke proyeksi ekonomi global. Lonjakan harga energi dinilai dapat memperlambat pertumbuhan sekaligus mendorong inflasi, sehingga memicu spekulasi baru terkait arah kebijakan suku bunga oleh Federal Reserve.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan akhir pekan ini. Survei ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) Maret bisa naik hingga 1 persen, menjadi kenaikan tertinggi sejak lonjakan inflasi pasca-pandemi 2022 dipicu kenaikan harga bensin sekitar US$1 per galon.
Padahal, pekan lalu pasar sempat mencatat optimisme. S&P 500 membukukan kenaikan mingguan terbaik tahun ini sebesar 3,4 persen, didorong aksi short covering dan harapan meredanya konflik. Posisi indeks bahkan hanya terpaut 5,7 persen dari rekor tertinggi Januari.
Namun sentimen positif tersebut cepat memudar setelah pidato Trump yang dinilai tidak memberikan kejelasan soal arah penyelesaian konflik. Pasar sempat pulih setelah muncul kabar bahwa Iran berdiskusi dengan Oman terkait pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Di sisi lain, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak tajam dan ditutup di atas US$110 per barel, naik 11 persen dalam satu hari perdagangan.
Tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik empat basis poin menjadi 3,84 persen, dipicu data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan. AS tercatat menambah 178.000 lapangan kerja pada Maret, melampaui ekspektasi pasar.
Menurut International Energy Agency (IEA), konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah menciptakan salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar modern. Harga minyak pun masih bertahan mendekati level tertinggi bulan lalu di kisaran US$120 per barel.
Situasi semakin kompleks setelah serangan yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan merusak fasilitas minyak di Kuwait serta menghentikan operasional pabrik petrokimia di Uni Emirat Arab.
Editor:Santi



.jpg)
