13 April 2026

Get In Touch

Cuaca Ekstrem Hantam RI, BNPB: 1 Tewas, Puluhan Rumah Rusak

Angin kencang menumbangkan salah satu pohon yang berada di wilayah Kecamatan Dompu dan menimpa truck container serta beberapa rumah warga, Jumat (3/4/2026). (foto:BPBD Kabupaten Dompu)
Angin kencang menumbangkan salah satu pohon yang berada di wilayah Kecamatan Dompu dan menimpa truck container serta beberapa rumah warga, Jumat (3/4/2026). (foto:BPBD Kabupaten Dompu)

JAKARTA (Lentera) - Cuaca ekstrem menghantam sejumlah wilayah di Indonesia dalam 2 hari terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1 orang meninggal dunia serta puluhan rumah warga mengalami kerusakan. 

"Kami menghimpun kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Jumat (3/4/2026) pukul 07.00 WIB hingga Sabtu (4/4/2026) pukul 07.00 WIB. Dari pendataan tersebut, kejadian berdampak signifikan masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, termasuk cuaca ekstrem," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan resminya.

Salah satu peristiwa yang menimbulkan korban jiwa terjadi di Desa Pengadang, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi pada Jumat siang menyebabkan sedikitnya empat pohon tumbang.

Dalam kejadian tersebut, satu pohon dilaporkan menimpa seorang warga hingga meninggal dunia.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB bersama BPBD Kabupaten Lombok Tengah segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait guna menangani dampak bencana.

Selain di Lombok Tengah, cuaca ekstrem juga melanda Kabupaten Dompu, NTB. Angin puting beliung yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) sekitar pukul 14.10 waktu setempat menerjang dua kelurahan di Kecamatan Dompu, yakni Kelurahan Dorotangga dan Kelurahan Bada.

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 20 unit rumah warga terdampak, dengan 6 di antaranya mengalami kerusakan kategori sedang. Kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh pohon tumbang yang menimpa bangunan warga.

Tidak hanya merusak rumah, pohon tumbang juga dilaporkan menimpa sebuah truk kontainer yang sedang melintas di wilayah tersebut. Beruntung, Abdul menyebut tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, meskipun kerugian material masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang.

Beralih ke Pulau Kalimantan, bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan. Hujan disertai angin kencang berdampak pada enam desa dan satu kelurahan yang tersebar di empat kecamatan.

Wilayah terdampak meliputi Desa Rumintin, Desa Tambarangan, dan Desa Harapan Masa di Kecamatan Tapin Selatan, kemudian Desa Sungai Rutas di Kecamatan Candi Laras. Desa Timbung dan Desa Shabah Tampunang di Kecamatan Bungur, serta Kelurahan Rantau Kiwa di Kecamatan Tapin Utara.

BNPB mencatat sedikitnya 20 rumah warga mengalami kerusakan akibat kejadian tersebut.

"Rinciannya, 10 unit rumah rusak ringan, tiga unit rusak sedang, dan tujuh unit rusak berat. Kerusakan umumnya terjadi pada bagian atap rumah yang tidak mampu menahan terpaan angin kencang," ungkap Abdul.

Selain permukiman warga, angin kencang juga menyebabkan kerusakan pada 2 fasilitas pendidikan dan satu fasilitas umum.

Sementara itu, bencana banjir juga masih terjadi di sejumlah daerah, salah satunya di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu luapan air sungai hingga menggenangi permukiman warga di dua kecamatan.

Lima desa terdampak banjir, yakni Desa Gio Barat dan Desa Pandelalap di Kecamatan Moutong, serta Desa Paria, Desa Tompo, dan Desa Sibatang di Kecamatan Taopa. Banjir yang terjadi menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu dan memaksa sebagian warga mengungsi.

BPBD Kabupaten Parigi Moutong melaporkan sebanyak 35 kepala keluarga terdampak banjir, dengan lima keluarga di antaranya harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, sebanyak 39 unit rumah turut terdampak, dengan satu unit dilaporkan mengalami kerusakan ringan.

Hingga Jumat malam, genangan air masih dilaporkan belum surut di sejumlah titik, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.

BNPB mengingatkan, periode peralihan musim atau pancaroba kerap ditandai dengan cuaca yang tidak menentu, mulai dari hujan tiba-tiba, angin kencang, hingga suhu udara yang meningkat.

Kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi yang dapat menimbulkan kerugian baik material maupun korban jiwa.

"Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi pohon tumbang, banjir, dan kerusakan bangunan akibat angin kencang," pungkasnya.

Editor:Santi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.