JAKARTA (Lentera) - Kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan bahan baku plastik akibat konflik di Timur Tengah memicu aksi panic buying di Korea Selatan. Dampaknya, penjualan kantong sampah dilaporkan melonjak drastis hingga lebih dari 3 kali lipat dalam sepekan terakhir.
Dilansir The Korea Times pada Rabu (1/4/2026), jaringan toko serba ada (toserba) CU mencatat kenaikan signifikan pada penjualan kantong sampah.
Dalam periode sepekan hingga 26 Maret, penjualan kantong sampah makanan melonjak 153,3 persen dibanding minggu sebelumnya. Sementara itu, penjualan kantong sampah umum bahkan meningkat hingga 216,4 persen.
Tren serupa juga terjadi di jaringan ritel lainnya. GS25 melaporkan penjualan kantong sampah makanan naik 182,7 persen dan kantong sampah biasa meningkat 234,5 persen dalam periode yang sama. Sementara itu, gabungan penjualan di 7-Eleven dan Emart24 masing-masing tercatat naik sebesar 169 persen dan 177 persen.
Lonjakan penjualan tersebut terjadi seiring meningkatnya kecemasan publik terhadap potensi kelangkaan nafta, bahan utama dalam produksi plastik, yang dipasok dari minyak mentah. Isu ini mencuat di tengah kekhawatiran akan gangguan distribusi energi global, khususnya terkait kemungkinan penutupan Selat Hormuz.
Mengutip DTC, fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Tanda-tanda peningkatan permintaan mulai terlihat sejak pertengahan Maret, bertepatan dengan meningkatnya kekhawatiran di industri petrokimia global terhadap potensi gangguan pasokan minyak yang berdampak pada produksi nafta.
Pada awal Maret, permintaan kantong sampah masih relatif stabil. Namun, memasuki periode 15 hingga 21 Maret, terjadi lonjakan awal dengan tren pertumbuhan dua digit. CU mencatat penjualan kantong sampah makanan naik 13,8 persen dan kantong sampah biasa meningkat 21,3 persen dalam kurun waktu tersebut.
GS25 juga mencatat tren serupa, dengan kenaikan penjualan kantong sampah makanan sebesar 20,6 persen dan kantong sampah umum sebesar 9 persen. Adapun 7-Eleven dan Emart24 mulai menunjukkan peningkatan penjualan dengan pola yang sama.
Aksi panic buying dilaporkan menyebabkan stok kantong sampah ukuran kecil hingga menengah, terutama 10 liter dan 20 liter, hampir habis di sejumlah toko. Kedua ukuran tersebut diketahui paling banyak digunakan oleh rumah tangga di Korea Selatan.
Beberapa gerai bahkan dilaporkan hanya menyisakan kantong sampah berukuran besar, yakni 75 liter atau lebih. Untuk mengantisipasi kelangkaan, sejumlah toko mulai memberlakukan pembatasan pembelian serta mengurangi jumlah produk dalam satu bundel penjualan.
Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan memastikan pasokan kantong sampah nasional dalam kondisi aman. Pemerintah disebut memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari tiga bulan ke depan.
Pihak kementerian juga menegaskan kebijakan pembatasan pembelian yang diterapkan di sejumlah titik penjualan merupakan langkah preventif. Tujuannya untuk meredam aksi panic buying yang dipicu kekhawatiran publik, bukan karena adanya gangguan nyata dalam rantai pasok.
Editor:Santi




.jpg)
