MALANG (Lentera) - Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) memperluas kerja sama internasional dalam program double degree, tidak hanya dengan universitas di Jepang juga Victoria University, Australia.
"Program double degree di FIA UB telah dimulai sejak 2007. Pada periode 2007 hingga 2022, fakultas tersebut menjalin kerja sama dengan 6 universitas di Jepang, salah satunya Tohoku University," ujar Dekan FIA UB, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., Kamis (12/3/2026).
Selain Jepang, FIA UB juga memperluas jejaring kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di Thailand. Kerja sama tersebut berlangsung pada periode 2010 hingga 2015 dengan 2 kampus mitra, yakni Burapha University dan Prince of Songkla University.
Saat ini, menurut Prof. Hamidah, kerja sama double degree masih berlanjut dengan sejumlah universitas di Jepang. Pada periode 2024 hingga 2026, program tersebut dijalankan bersama National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) di Tokyo serta Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) di Jepang.
"Untuk tahun 2026, kami menambah lagi universitas yang bekerja sama untuk double degree, yakni dengan Australia, yaitu Victoria University," katanya.
Selain Australia, FIA UB juga membuka peluang kerja sama baru dengan universitas di Selandia Baru. Hamidah menyebut pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman dengan Massey University dan berharap program tersebut dapat diikuti mahasiswa pada tahun perkuliahan mendatang.
Untuk diketahui, program double degree di prodi Magister Administrasi Publik (MAP) FIA UB sendiri telah memiliki dasar hukum melalui Surat Keputusan (SK) Rektor Universitas Brawijaya Nomor 263 Tahun 2026. Program tersebut juga dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai salah satu syarat penyetaraan ijazah.
Izin penyelenggaraan program mencakup 3 universitas mitra, yakni Master of International Community Development di Victoria University Australia, Graduate School of Asia Pacific Studies di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Jepang, serta National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) di Tokyo.
"Ini juga menjadi upaya kami menyiapkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam perumusan kebijakan, baik di bidang administrasi publik maupun administrasi bisnis," ujarnya.
Hamidah menambahkan, kedua bidang tersebut saat ini semakin dipengaruhi oleh dinamika global sehingga mahasiswa perlu memiliki wawasan internasional.
Dalam pelaksanaannya, program double degree di FIA UB juga didukung oleh pendanaan beasiswa dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dukungan tersebut telah berjalan sejak awal program diluncurkan pada 2007 dan masih berlanjut hingga saat ini.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik FIA UB, Dr. Fadillah Amin, M.AP., Ph.D., menjelaskan skema program double degree S2 umumnya ditempuh selama 2 tahun. Mahasiswa menjalani studi selama satu tahun di Program Magister Administrasi Publik FIA UB dan satu tahun berikutnya di universitas mitra di luar negeri.
Untuk tahun ini, terdapat 7 mahasiswa Program Magister Administrasi Publik yang mengikuti program double degree dan dijadwalkan berangkat ke Jepang pada September 2026.
"Tahun sebelumnya, enam mahasiswa telah mengikuti program serupa dan sebagian di antaranya menempuh studi di Victoria University, Melbourne, Australia," katanya.
Di sisi lain, Ketua Program Studi Magister Administrasi Bisnis FIA UB, Prof. Andriani Kusumawati, menilai program double degree memberikan nilai tambah bagi lulusan dalam memasuki dunia kerja.
Selain meningkatkan daya saing lulusan, ia menilai program tersebut juga melatih mahasiswa dalam mengelola waktu serta beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.
"Mereka dipaksa menyelesaikan studi satu tahun di luar negeri dan satu tahun di sini. Dari situ mereka belajar mengatur waktu dan beradaptasi dengan budaya yang berbeda. Itu menjadi soft skill yang sangat penting," katanya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
