SURABAYA (Lentera) - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) akan memberikan tanggapan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. IRGC menyebut sebagai serangan balasan paling menghancurkan.
Al Jazeera, Minggu (1/3/2026), melaporkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam pembunuhan Khamenei sebagai "kejahatan besar" dan berjanji akan menanggapinya, menurut pernyataan dari kantornya.
"Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan membuka lembaran baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah. Darah murni pemimpin berpangkat tinggi ini akan mengalir seperti mata air yang deras dan akan memberantas penindasan dan kejahatan Zionis-Amerika," katanya.
“Kali ini juga, dengan segenap kekuatan dan tekad kita, dengan dukungan bangsa Islam dan rakyat merdeka di dunia, kita akan membuat para pelaku dan komandan kejahatan besar ini menyesali perbuatan mereka,” tambahnya.
Pezeshkian juga mengumumkan tujuh hari libur nasional sebagai tambahan dari 40 hari masa berkabung.
Sementara, IRGC mengumumkan permulaan 'operasi ofensif paling menghancurkan dalam sejarah Republik Islam Iran'. Pernyataan ini disiarkan media Iran, Fars News, yang juga menjelaskan operasi bakal dimulai 'sebentar lagi'.
Target IRGC adalah 'wilayah pendudukan dan pangkalan teroris Amerika'.
"Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya", kata IRGC dikutip Far News dilansir cnnindonesia.
Kematian Khamenei di tangan teroris paling kejam disebut sebagai legitimasi Khamenei sebagai pemimpin besar. AS dan Israel, yang dijuluki algojo kemanusiaan, dikatakan tak akan lolos dari 'tangan pembalasan Iran'.
IRGC didirikan oleh Ruhollah Khomeini sebagai cabang militer pada 1979 setelah Revolusi Islam. IRGC bertugas memastikan integritas Republik Islam, sedangkan angkatan bersenjata Iran melindungi kedaulatan negara. (*)
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)
