MALANG (Lentera) -Konflik warganet Korea atau Knetz dengan netizen Asia Tenggara yang disebut sebagai SEAbling memunculkan dinamika baru di ruang digital. Bukan sekadar fan war K-Pop, perdebatan ini dinilai memiliki dimensi lebih luas yang berpotensi menyentuh relasi publik antar negara.
Analis komunikasi dari Universitas Brawijaya (UB), Dr. Verdy Firmantoro, S.I.Kom., M.I.Kom., menilai konflik Knetz vs SEAbling merupakan bentuk kontestasi identitas digital lintas negara atau transnational digital identity conflict.
"Platform seperti X mempercepat polarisasi. Karena algoritmanya dirancang mendorong keterlibatan yang memicu kemarahan. Jadi konflik ini bukan hanya soal budaya, tapi soal platform yang memperkuat emosi kolektif," ujar Verdy, Sabtu (28/2/2026).
Dijelaskannya, eskalasi konflik tidak lepas dari karakter media sosial, khususnya X, yang memfasilitasi penyebaran opini secara cepat dan masif. Konten yang memicu kemarahan atau sentimen negatif cenderung mendapatkan interaksi lebih tinggi sehingga memperluas jangkauan konflik.
Menurut Verdy, fenomena ini justru memunculkan solidaritas baru di antara netizen Asia Tenggara. Jika sebelumnya warganet ASEAN kerap terfragmentasi oleh rivalitas antarnegara, ejekan yang digeneralisasi oleh Knetz terhadap kawasan Asia Tenggara menjadi pemicu bersatunya identitas regional.
"Hal ini membuktikan dalam konteks digital, apa yang mendorong solidaritas bukan karena negara, tapi karena pengalaman sama-sama dihujat. Perspektif komunikasi menyebut hal ini sebagai reactive solidarity, yakni pembingkaian ulang mengenai identitas regional SEAbling," jelasnya.
Meski demikian, Verdy menegaskan konflik ini tidak secara langsung berdampak pada hubungan diplomatik formal antara negara-negara ASEAN dan Korea Selatan. Namun, ia mengingatkan potensi gangguan pada diplomasi publik jika sentimen negatif terus berkembang.
"Memang tidak langsung berdampak pada relasi diplomatik formal. Tapi jika sentimen ini terus membesar dan opini publik meluas, maka dampaknya bisa mengganggu diplomasi publik orang ke orang (people to people relations)," tegasnya.
Sementara itu, pakar antropologi UB, Franciscus Apriwan, M.A., melihat fenomena ini sebagai pola umum dinamika isu di ruang digital. Menurutnya, konflik semacam ini akan mengikuti siklus viral, yakni naik, ramai diperbincangkan, lalu perlahan meredup.
Frans, sapaan akrabnya mengakui munculnya solidaritas baru di kalangan netizen Asia Tenggara. Namun, ia menilai solidaritas tersebut tidak semata-mata lahir dari kesamaan identitas kawasan.
"Mereka adalah kelas menengah yang mencintai budaya K-Pop. Orang-orang yang punya kesempatan keliling ASEAN sehingga punya relasi kuat. Ketika Knetz menarasikan Asia Tenggara sebagai wilayah tertinggal, orang-orang ini ingin menunjukkan kebanggaan menjadi SEAbling," jelasnya.
Konflik Knetz vs SEAbling sendiri bermula dari cuitan seorang netizen Malaysia di platform X yang menyoroti dugaan pelanggaran aturan konser oleh warga Korea saat menghadiri konser grup musik Day6 di Negeri Jiran. Unggahan tersebut kemudian diserbu warganet Korea.
Alih-alih meredakan situasi, sejumlah komentar Knetz justru menggeneralisasi Asia Tenggara sebagai kawasan tertinggal. Narasi tersebut memicu kemarahan netizen regional yang kemudian mengidentifikasi diri sebagai SEAbling, yang merupakan gabungan dari Southeast Asia dan siblings (saudara kandung).
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH




.jpg)
