SURABAYA ( LENTERA ) - Dibalik rutinitas perawatan wajah sepuluh langkah yang populer belakangan ini, tersimpan sebuah ironi medis yang seringkali terabaikan. Banyak individu terjebak dalam siklus pengobatan jerawat yang tidak berujung. Menggunakan bahan aktif mulai dari asam salisilat hingga retinoid. Namun kondisi kulit mereka justru kian memburuk.
Fenomena ini bukanlah kegagalan produk, melainkan kesalahan identifikasi terhadap kondisi yang disebut Malassezia Folliculittis atau yang lebih populer dengan istilah fungal acne.
Secara klinis, fungal acne bukanlah jerawat dalam pengertian medis konvensional. Jika jerawat pada umumnya (acne vulgaris) disebabkan oleh penyumbatan pori dan bakteri cutibacterium acnes, maka fungal acne adalah infeksi pada folikel rambut yang dipicu oleh pertumbuhan jamur ragi dari genus Malassezia secara berlebihan.
Menurut dr. Arini Astasari Widodo,Sp.DVE , seorang spesialis dermatologi, Venereologi dan estetika kunci utama dalam menangani masalah ini adalah ketepatan diagnosis di awal. Dalam sesi edukasinya, dia menjelaskan bahwa jamur Malassezia sebenarnya adalah bagian alami dari ekosistem kulit manusia.
“Masalah muncul ketika keseimbangan flora normal pada kulit terganggu. Jamur ini bersifat lipofilik, artinya mereka sangat menyukai lemak atau minyak. Ketika produksi sebum meningkat atau kondisi kulit menjadi terlalu lembab, jamur ini akan berkembang biak secara tidak terkendali di dalam folikel rambut, memicu peradangan yang terlihat sangat mirip dengan jerawat,” ujar dr. Arini.
Ditambahkan, salah satu ciri pembeda yang paling valid adalah tekstur dan sensasi. Berbeda dengan jerawat bakteri yang ukurannya bervariasi dan terkadang memiliki “mata”, fungal acne cenderung muncul dalam bentuk benjolan kecil (papula) yang berukuran seragam dan sering kali disertai rasa gatal yang sangat mengganggu gejala yang jarang ditemukan pada jerawat biasa.
Iklim tropis seperti di Indonesia menjadi faktor pendukung utama meluasnya kasus ini. Kelembaban udara yang tinggi merangsang produksi keringat berlebih, yang kemudian terperangkap di bawah pakaian atau lapisan kosmetik yang tebal. Selain faktor eksternal, penggunaan antibiotik jangka panjang atau obat-obatan imunosupresan juga dapat memicu ketidakseimbangan mikrobioma kulit, memberikan peluang bagi jamur untuk mendominasi.
Beberapa kesalahan umum dilakukan penderita yang mAlah memicu semakin parahnya kondisi.
Salah Diagnosis & Pengobatan
Menganggapnya jerawat biasa dan menggunakan obat jerawat umum. Fungal acne butuh antijamur (ketoconazole, selenium sulfide), bukan krim jerawat.
Menggunakan Skincare Komedogenik
Menggunakan produk berminyak (minyak kelapa, minyak zaitun) atau produk yang memicu jamur, yang justru menjadi "makanan" bagi jamur Malassezia.
Penggunaan Antijamur Oral Tanpa Resep
Menggunakan obat seperti fluconazole tanpa pengawasan dokter berisiko efek samping serius, seperti gangguan hati.
Kurang Kebersihan Pakaian
Tidak segera mengganti pakaian setelah berkeringat (olahraga/cuaca panas) membiarkan jamur berkembang biak di area lembap.
Menggaruk atau Memencet
Memencet benjolan gatal dapat menyebabkan iritasi, infeksi sekunder, dan parut. (Nathasya_Mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)
Tips Mengatasi Fungal Acne
Pilih pakaian berbahan alami: gunakan pakaian berbahan katun yang longgar untuk memastikan sirkulasi udara yang baik dan mengurangi penumpukan keringat pada kulit.
Segera mandi setelah beraktivitas: jangan biarkan keringat mengering di tubuh. Segera mandi dan ganti pakaian setelah berolahraga atau beraktivitas di bawah terik matahari.
Gunakan shampo anti ketombe sebagai sabun: shampo yang zinc pyrithione atau selenium sulfide dapat digunakan sebagai sabun mandi sementara pada area yang terdampak untuk membantu menekan pertumbuhan jamur.
Evaluasi Produk Perawatan Kulit: Hindari produk yang mengandung minyak berlebih (fatty acids) atau bahan oklusif yang terlalu berat, karena jamur Malassezia mengonsumsi asam lemak tertentu untuk berkembang biak. Pilihlah produk yang berlabel fungal acne safe.
Batasi Konsumsi Gula: Diet tinggi gula dan karbohidrat sederhana dapat memicu pertumbuhan jamur dalam tubuh. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang akan membantu menjaga sistem imun tetap stabil.
Konsultasi Medis: Jika kondisi tidak membaik dalam dua minggu, segera hubungi dokter spesialis kulit untuk mendapatkan diagnosis akurat melalui tes laboratorium (kerokan kulit) guna memastikan jenis jamur yang menginfeksi.(*)





.jpg)
