27 February 2026

Get In Touch

Ingat! Ini Dampak Emosional Anak yang Tumbuh dalam Konflik Keluarga

Ingat! Ini Dampak Emosional Anak yang Tumbuh dalam Konflik Keluarga

SURABAYA ( LENTERA ) - Konflik dalam keluarga bukan sekadar peristiwa sesaat yang bisa begitu saja dilupakan. Bagi anak, pertengkaran dan ketegangan di rumah dapat meninggalkan dampak emosional yang mendalam. Situasi ini memengaruhi cara berpikir anak, merasakan sesuatu, dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman justru berubah menjadi sumber tekanan. Anak pun sering kali kesulitan mengungkapkan perasaan yang mereka alami karena kondisi tersebut.

Dalam jangka panjang, konflik yang terus berulang dapat meninggalkan jejak emosional yang kompleks. Anak sering menyerap suasana tanpa benra-benar memahami penyebabnya, tapi merasakan dampaknya secara utuh. Berikut 5 dampak utama yabg biasanya muncul: 

Rasa tidak aman yang menetap 
Anak yang terus menyaksikan pertengkaran di rumah rentan mengalami ketidamanan emosional. Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru terasa penuh ancaman. Kondisi ini membuat anak selalu waspada terhadap suasana sekitar dan bereaksi berlebihan terhadap ekpresi orang dewasa.

Kecemasan dan ketakutan berlebihan 
Kecemasan sering muncul sebagai respons alami terhadap konflik yang terus terjadi. Anak merasa takut kehilangan, takut disalahkan, atau terus mengkhawatirkan dan bisa membuat situasi semakin buruk. Kecemasan ini sering kali tidak tampak jelas, tetapi dapat mengganggu tidur, konsentrasi, dan kestabilan emosional anak.

Kesulitan mengekspresikan emosi secara sehat 
Anak yang terbiasa melihat konflik cenderung meniru pola komunikasi yang tidak sehat. Mereka tidak mapu mengekspresikan perasaan secara sehat. Ekpresi marah, diam berkepanjangan, atau ledakan emosi bisa menjadi cara yang dianggap normal. Akibatnya, anak kesulitan mengenali dan menyampaikan perasaan dengan cara yang seimbang.

Menurunnya kepercayaan diri
Konflik keluarga juga berdampak pada cara anak memandang diri sendiri. Anak bisa merasa tidak cukup berharga atau merasa menjadi penyebab masalah. Rasa rendah diri membuat anak ragu mengekspresikan pendapat dan perasaan. Anak menjadi enggan menyuarakan pendapat dan takut mengambil risiko karena sudah terbiasa berasa dala suasana yang penuh kritik dan ketegangan. 

Pola hubungan yang tidak sehat di masa depan 
Anak yang tumbuh di tengah konflik keluarga berisiko membawa pola hubungan tersebut hingga dewasa. Cara mereka memahami cinta, komitmen, dan menyelesaikan masalah sering kali terbentuk dari pengalaman masa kecil. Tanpa disadari, konflik menjadi sesuatu yang terasa biasa dan akhirnya terulang dalam hubungan mereka di masa depan. Anak bisa menjadi sulit mempercayai orang lain, atau sebaliknya, terlalu bergantung secara emosional pada pasangan. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi seseorang dalam jangka panjang.

Dengan memahami dampak ini, kita bisa lebih berempati terhadap kondisi anak. Lingkungan yang aman dan penuh dukungan memberi kesempatan lebih besar bagi anak untuk tumbuh dengan kondisi emosional yang lebih sehat. (Ilma – Mahasiswa UINSA, Berkontribusi dalam tulisan ini)
Tips Menciptakan Keluarga Harmonis

Keluarga yang harmonis memberikan rasa aman bagi anak untuk belajar dan mencoba hal baru. 
Komunikasi Terbuka & Efektif: Gunakan bahasa yang sederhana, hindari kata-kata menghakimi, dan jadilah pendengar aktif bagi anak. Komunikasi yang jujur membantu setiap anggota keluarga merasa didengar dan dihargai.
Waktu Berkualitas (Quality Time): Luangkan waktu setiap hari tanpa gawai untuk mengobrol dan berbagi tawa. Aktivitas seperti makan bersama, bermain, atau mendampingi anak belajar secara rutin dapat mempererat ikatan emosional.
 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.