26 February 2026

Get In Touch

Peringatan Dini BMKG: Cuaca Ektrem 21-28 Februari di Jatim dan Waspadai Bencana Hidrometeorologi

Ilustrasi hujan lebat akibat cuaca ekstrem di wilayah Jatim. (foto:ist/Ant)
Ilustrasi hujan lebat akibat cuaca ekstrem di wilayah Jatim. (foto:ist/Ant)

SURABAYA (Lentera) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur (Jatim), untuk periode 21-28 Februari 2026. 

Masyarakat diminta mewaspadai bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi, dipicu oleh kondisi atmosfer yang labil.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan dalam keterangan resminya menghimbau masyarakat dan instansi terkait, untuk senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca yang mendadak itu.

“Diprakirakan (dalam kurun waktu 21-28 Februari) akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ungkap Taufiq dalam keterangannya melansir suarasurabaya.net, Minggu (22/2/2026).

Adapun cuaca ekstrem ini diprakirakan mencakup hampir seluruh wilayah di Jawa Timur, yakni Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Kabupaten/Kota Blitar, Kabupaten/Kota Kediri, Kabupaten/Kota Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Kabupaten/Kota Probolinggo.

Selain itu cuaca ekstrem juga berpotensi melanda Kabupaten/Kota Pasuruan, Sidoarjo, Kabupaten/Kota Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kabupaten/Kota Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kota Surabaya, dan Kota Batu.

Potensi cuaca ekstrem tersebut dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.

Berdasarkan analisis BMKG, fenomena ini terjadi karena seluruh wilayah Jawa Timur saat ini berada pada musim hujan, bahkan beberapa wilayah masih mengalami puncak musim hujan.

Peningkatan cuaca ekstrem ini merupakan dampak dari beberapa faktor atmosfer, yaitu aktifnya monsun Asia, kemudian gangguan gelombang atmosfer Low Frequency, Madden Jullian Oscillation (MJO), dan Gelombang Rossby yang melintasi Jawa Timur.

Selain itu juga dipengaruhi suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan, dan kondisi atmosfer lokal yang labil yang mendukung pertumbuhan awan konvektif berpotensi hujan petir dan angin kencang.

“Wilayah dengan topografi curam/bergunung/tebing diharapkan lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang,” ujar Taufiq.

Masyarakat dihimbau untuk selalu memantau kondisi cuaca terkini melalui berbagai kanal resmi BMKG Juanda.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.