TULUNGAGUNG (Lentera) - Puluhan siswa SD Negeri 3 Bungur, Kabupaten Tulungagung, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu makanan bergizi gratis (MBG), pada Selasa (10/2/2026).
Kepala SD Negeri 3 Bungur, Andri Susanto mengatakan 24 siswa mengeluhkan gejala pusing, mual, dan mulas sekitar 20–30 menit setelah mengonsumsi MBG yang diterima sekolah, pada Selasa (10/2/2026) pagi.
"Total ada 24 siswa yang mengalami keluhan dan langsung kami bawa ke puskesmas, untuk mendapatkan penanganan medis," katanya melansir Antara, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, MBG tersebut dibagikan kepada 76 siswa dan 13 guru. Sebelum dibagikan, sejumlah guru telah mencicipi menu MBG dan menilai makanan tersebut dalam kondisi aman.
Namun, setelah dikonsumsi siswa, sebagian siswa mengeluhkan gejala tidak nyaman. Berdasarkan keterangan siswa, lauk berupa ayam suwir dan oseng kacang panjang mengeluarkan bau tidak sedap dan berlendir.
Ia menyebut, SD Negeri 3 Bungur baru menerima layanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bungur sejak pertengahan Januari 2026 atau belum genap satu bulan sebelum insiden tersebut terjadi.
Setelah kejadian, pihak sekolah memulangkan siswa lebih awal dan menghentikan kegiatan belajar mengajar untuk sementara pada hari itu guna memastikan kondisi kesehatan siswa.
"Kami terus memantau kondisi siswa, termasuk yang sempat pulang lebih dulu. Jika ada keluhan lanjutan, langsung kami rujuk ke fasilitas kesehatan," ujarnya.
Hingga Selasa siang, seluruh siswa yang mengalami keluhan masih dalam pemantauan pihak sekolah dan tenaga kesehatan, sedangkan penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Kejadian dugaan keracunan MBG di Tulungagung bukan yang pertama kalinya, sebelumnya pernah terjadi pada dua sekolah. Yakni dialami ratusan siswa SMK Negeri 3 Boyolangu dan SMP Negeri 1 Boyolangu.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr Aris Setiawan mengatakan pihaknya telah mengambil seluruh sampel sisa makanan, serta muntahan siswa untuk pemeriksaan laboratorium.
“Saat ini masih dalam proses pemeriksaan di laboratorium, untuk memastikan penyebab gangguan pencernaan tersebut,” kata Aris mengutip Kompas.com, Selasa (10/2/2026).
Ia menambahkan, dugaan awal mengarah pada keracunan makanan, namun kepastian penyebabnya masih menunggu hasil uji laboratorium.
Terpisah. Koordinator BGN Tulungagung, Sebrina Mahardika menegaskan operasional SPPG yang memproduksi menu MBG tersebut, dihentikan sementara menyusul kejadian ini.
“Operasional dapur kami hentikan sementara, untuk keperluan evaluasi menyeluruh. Evaluasi meliputi aspek higiene sanitasi, perizinan, hingga bahan dan jenis menu yang digunakan,” kata Sebrina.
Editor: Arief Sukaputra/Berbagai sumber





.jpg)
