JUDA Agung resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan menggantikan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono. Pergantian ini boleh jadi tidak mengejutkan, namun tetap menyisakan rasa ganjil. Rotasi itu berlangsung terlalu mulus untuk dibaca sekadar sebagai penataan jabatan biasa. Publik pun menangkap pola pertukaran posisi di simpul kekuasaan fiskal dan moneter, terlebih Tommy--begitu sapaannya-- merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto. Juda Agung datang dari jalur teknokrat murni. Ia menghabiskan sebagian besar kariernya di Bank Indonesia, terakhir menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, dengan latar belakang akademik dan pengalaman panjang di kebijakan moneter, termasuk di lembaga internasional. Ia tidak berangkat dari partai atau panggung politik. Masuknya Juda ke Kabinet Merah Putih menandai perpindahan figur profesional dari bank sentral ke jantung kebijakan fiskal pemerintah. Sebaliknya, Thomas Djiwandono justru bergerak ke arah berlawanan. Setelah menjabat Wakil Menteri Keuangan, ia kini menempati posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Latar belakangnya yang kental dengan lingkar kekuasaan politik membuat peralihan ini segera menuai sorotan, mengingat Bank Indonesia dituntut menjaga jarak dari pengaruh politik praktis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah adanya praktik tukar guling. Namun penolakan itu tidak sepenuhnya menutup tafsir publik. Alih-alih menyebutnya rotasi atau suksesi biasa, Purbaya menggunakan istilah switch. Benarkah ramalan warganet soal adanya pengaturan peran yang telah disiapkan sejak awal?. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINIhttps://lentera.co/upload/Epaper/06022026.pdf



.jpg)
.jpg)
.jpg)
