04 February 2026

Get In Touch

Landak Jawa dan Monyet Ekor Panjang Muncul di Hutan Kota Trenggalek

Seekor monyet ekor panjang tertangkap kamera trap saat melintas di kawasan Hutan Kota Trenggalek
Seekor monyet ekor panjang tertangkap kamera trap saat melintas di kawasan Hutan Kota Trenggalek

TRENGGALEK (Lentera) -Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melakukan pemantauan satwa liar menggunakan kamera trap di Hutan Kota Trenggalek. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya inventarisasi keanekaragaman hayati sekaligus pemantauan satwa dilindungi di kawasan ruang terbuka hijau tersebut.

Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia Putra, menjelaskan kamera trap dipasang di batang pohon dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter dari permukaan tanah. Posisi ini disesuaikan dengan karakteristik burung paok pancawarna yang dikenal sebagai burung lantai hutan.

“Kamera trap di hutan kota ini kami pasang dengan tujuan utama untuk mengetahui keberadaan target kami, yaitu burung paok pancawarna yang merupakan satwa endemik Jawa dan Bali serta dilindungi oleh undang-undang,” ujar Akhmad David, Jumat (30/1/2026).

Ia menambahkan, hasil pemantauan tersebut nantinya juga diharapkan dapat menjadi atraksi wisata bird watching di Trenggalek.

Meski belum berhasil mendokumentasikan burung paok pancawarna selama satu pekan pengamatan, hasil kamera trap justru merekam keberadaan satwa dilindungi lainnya.

“Setelah satu minggu pengamatan dan hari ini kami periksa, memang paok pancawarna belum tertangkap kamera. Namun kami senang karena masih bertemu satu pasang landak Jawa atau Hystrix javanica yang juga berstatus dilindungi,” jelasnya.

Selain landak Jawa, kamera trap juga merekam satu individu monyet ekor panjang serta keberadaan musang pandan. Menurut Akhmad David, temuan ini menunjukkan ekosistem Hutan Kota Trenggalek masih relatif seimbang.

“Ini cukup mengejutkan karena masih ada mamalia seperti landak, monyet ekor panjang, dan juga musang pandan. Artinya Hutan Kota Trenggalek masih bisa dianggap sebagai kawasan terbuka hijau dengan ekosistem yang seimbang,” katanya.

Ia menegaskan, keberadaan burung paok pancawarna di kawasan tersebut sebenarnya sudah terkonfirmasi dari hasil inventarisasi hayati sebelumnya.

“Kalau paok pancawarna, dari hasil inventarisasi memang sudah ada dan sehari-hari juga sering terdengar suaranya. Hanya saja belum terdokumentasi, makanya kami pasang kamera trap,” ungkapnya.

Akhmad David juga mengaku pernah melihat langsung burung paok pancawarna di lokasi tersebut, namun belum sempat mendokumentasikannya.

“Saya sendiri melihatnya dua kali di sini, tapi tidak sempat foto karena burungnya bergerak cepat dan saat itu saya masih menggendong kamera,” pungkasnya.

Reporter: Herlambang|Editior: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.