SURABAYA ( LENTERA ) - Sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertajuk World Urbanization Prospects 2025 mengejutkan publik global. Jakarta kini resmi menduduki peringkat pertama sebagai kota paling padat penduduk di dunia, menggeser Tokyo yang telah bertahun-tahun merajai daftar Megacities Global.
PBB merilis data yang menempatkan Jakarta sebagai wilayah urban terbesar dengan populasi mencapai 41,9 juta jiwa. Angka ini jauh melampaui Tokyo yang kini "hanya" mencatatkan 33,4 juta penduduk. Lonjakan drastis ini terjadi akibat perubahan metodologi perhitungan PBB yang kini mendefinisikan wilayah urban berdasarkan kepadatan fisik tanpa mempedulikan batas administratif pemerintah.
Data ini dikeluarkan oleh PBB dalam laporan prospek urbanisasi dunia. Wilayah yang dihitung mencakup Jakarta beserta kota-kota satelitnya seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang (Jabodetabek). Sementara itu, di posisi kedua, Dhaka (Bangladesh) siap menyalip dengan pertumbuhan yang sangat masif, menempatkan Tokyo turun ke posisi ketiga.
Pertumbuhan terbesar terkonsentrasi di kawasan penyangga Jakarta. Dalam metodologi baru ini, penduduk Jakarta bertambah sekitar 30 juta jiwa karena integrasi mobilitas dan kepadatan penduduk yang menyatu dengan wilayah pinggiran. Hal ini berbeda dengan Tokyo yang justru mengalami penyusutan populasi akibat rendahnya angka kelahiran di Jepang.
Perubahan status ini secara resmi tercatat dalam laporan tahun 2025 dan mulai menjadi perhatian luas pada awal Januari 2026. Selama 16 tahun terakhir, Jepang terus mengalami penurunan populasi, sementara Jakarta dan Dhaka terus mengalami pertumbuhan eksplosif selama 25 tahun terakhir.
Ada dua alasan utama. Pertama, Metodologi Baru PBB: PBB mendefinisikan wilayah urban berdasarkan jangkauan bangunan dan aktivitas ekonomi yang tidak terputus, sehingga Jabodetabek dihitung sebagai satu kesatuan besar. Kedua, Faktor Demografi: Berbeda dengan Tokyo yang menua dan menyusut, Jakarta mengalami arus urbanisasi yang deras dan tingkat kelahiran yang relatif lebih tinggi.
Dengan populasi mencapai 42 juta jiwa, Jakarta menghadapi tantangan besar terkait infrastruktur, ketersediaan air bersih, dan transportasi. Di sisi lain, munculnya Dhaka sebagai pesaing baru di posisi kedua (36,6 juta jiwa) menunjukkan tren bahwa ibu kota dari negara negara berkembang kini menjadi episentrum baru kepadatan penduduk dunia. (Nathasya-UINSA Berkontribusi dalam tulisan ini)




.jpg)
