04 February 2026

Get In Touch

ByteDance Rampungkan Kesepakatan, TikTok Tetap Beroperasi di AS

Logo aplikasi TikTok dalam layar smartphone (Bloomberg)
Logo aplikasi TikTok dalam layar smartphone (Bloomberg)

JAKARTA (Lentera) -TikTok memastikan tetap beroperasi di Amerika Serikat usai ByteDance merampungkan kesepakatan pengalihan sebagian bisnisnya kepada investor Negeri Paman Sam guna memenuhi tuntutan regulasi.

Melansir Bloomberg pada Jumat (23/1/2026), perusahaan media sosial itu secara resmi membentuk entitas TikTok AS dengan tiga investor pengelola utama, yakni Oracle Corp., perusahaan ekuitas swasta Silver Lake Management LLC, serta perusahaan investasi berbasis Abu Dhabi, MGX. 

Chief Executive Officer TikTok Shou Chew—yang tetap memimpin aset paling bernilai ByteDance secara global—mendapatkan kursi di dewan direksi. Sementara itu, Adam Presser, yang sebelumnya menjabat kepala operasi serta trust and safety TikTok, ditunjuk sebagai CEO entitas TikTok AS.

Berdasarkan kesepakatan yang pertama kali diumumkan pemerintahan Presiden Donald Trump pada September lalu, investor baru termasuk Oracle, Silver Lake, dan MGX akan menguasai 50% saham TikTok AS. Investor lama ByteDance mengendalikan 30,1%, sedangkan ByteDance sendiri memegang 19,9%, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Entitas baru ini bertanggung jawab atas moderasi konten TikTok serta perlindungan data pengguna di AS. Pengelolaannya berada di bawah dewan direksi baru beranggotakan tujuh orang dengan mayoritas warga negara Amerika. 

Oracle, yang selama ini menjadi mitra komputasi awan TikTok, ditunjuk sebagai pengawas keamanan guna memastikan kepatuhan TikTok terhadap regulasi.

Meski demikian, sejumlah pengkritik menilai pengaturan ini belum sepenuhnya sejalan dengan undang-undang keamanan nasional AS yang disahkan pada 2024 di era Presiden Joe Biden, yang mewajibkan pemisahan (spinoff) TikTok. Belum jelas apakah kritik tersebut akan berujung pada gugatan hukum.

Undang-undang itu mengatur bahwa ByteDance tidak boleh memiliki hubungan operasional dengan TikTok AS. TikTok menegaskan bahwa pembentukan usaha patungan tersebut telah mematuhi perintah eksekutif Trump yang diterbitkan pada September.

Kesepakatan yang diajukan Gedung Putih memungkinkan ByteDance menyewakan salinan algoritma kontennya kepada entitas TikTok AS, yang selanjutnya akan melatih ulang algoritma tersebut menggunakan data pengguna di AS.

Namun, sebagaimana dikutip Bisnis, ByteDance diperkirakan tetap mempertahankan kendali atas sejumlah aset penting bisnis TikTok di AS, termasuk divisi periklanan serta unit e-commerce yang berkembang pesat, TikTok Shop.

Penjualan TikTok di AS menandai akhir tarik-ulur geopolitik dan regulasi selama bertahun-tahun yang mengancam keberadaan aplikasi tersebut di AS akibat kekhawatiran keamanan nasional. 

Kongres AS pada 2024 mengesahkan aturan untuk melarang TikTok kecuali ByteDance menjualnya. Mereka beralasan adanya potensi penyalahgunaan data pengguna AS oleh pemerintah China atau penggunaan aplikasi untuk menyebarkan narasi yang menguntungkan Beijing. TikTok membantah tudingan tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyambut baik rampungnya kesepakatan ini melalui unggahan di Truth Social. Dia kembali mengaitkan popularitas TikTok dengan kemenangannya dalam pemilu 2024 serta menyampaikan terima kasih kepada Presiden China Xi Jinping atas persetujuan kesepakatan tersebut. 

“Dia bisa saja memilih sebaliknya, tetapi tidak, dan keputusannya patut diapresiasi,” tulis Trump.

Nilai valuasi usaha patungan ini belum diungkap secara resmi. Namun, Wakil Presiden AS JD Vance menyebutkan angka sekitar US$14 miliar. Sebelumnya, nilai bisnis TikTok di AS—yang mencakup iklan, e-commerce, dan live streaming—diperkirakan berada di kisaran US$35 miliar hingga US$50 miliar.

Kesepakatan ini semula ditargetkan rampung pada Januari 2025 untuk menghindari pelarangan, tetapi Trump beberapa kali memperpanjang tenggat waktu guna memberi TikTok kesempatan tambahan.

Penyelesaian ini, bertahun-tahun setelah wacana pelarangan pertama kali mencuat, menjadi kabar baik bagi pelaku usaha kecil, merek besar, serta kreator konten yang bergantung pada TikTok, sekaligus bagi sekitar 200 juta pengguna aktif bulanan di AS yang mengandalkan aplikasi tersebut sebagai sumber hiburan dan informasi (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.