Burung Migran dari Rusia Ditemukan di Pantai Cengkrong Trenggalek
23 January 2026
74
0
TRENGGALEK (Lentera) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur mencatat keberadaan burung migran asal belahan bumi utara di wilayah pesisir Trenggalek. Dua jenis burung migran yang ditemukan yakni gajahan pengala dan trinil pantai.
Polisi Hutan BKSDA Jawa Timur, Akhmad David Kurnia Putra, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan burung-burung tersebut dijumpai di kawasan Pantai Mangrove Cengkrong. “Di Pantai Mangrove Cengkrong terdata ada sekitar tiga individu gajahan pengala dan kurang lebih enam individu trinil pantai,” ujar David, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, kedua jenis burung tersebut tidak ditemukan di area persawahan Trenggalek, namun justru dijumpai di wilayah pesisir. Sementara itu, trinil pantai juga terpantau di persawahan Tulungagung dan Kediri.
Menurut David, gajahan pengala dan trinil pantai merupakan burung migran yang berasal dari belahan bumi utara, khususnya wilayah Rusia. “Kedua jenis burung ini berasal dari belahan bumi utara, dari Rusia. Mereka datang ke Indonesia untuk bertahan hidup,” jelasnya.
David menyebut, burung migran biasanya datang ke Indonesia pada periode Oktober hingga Maret. Kedatangan mereka dipicu oleh musim dingin ekstrem di daerah asal yang membuat sumber pakan sulit diperoleh. “Tujuan mereka ke daerah tropis seperti Indonesia adalah untuk mencari makan, karena di daerah asalnya sedang musim dingin dan tidak memungkinkan tersedia sumber makanan,” katanya.
Terkait habitat, gajahan pengala lebih sering dijumpai di kawasan pantai saat bermigrasi. Makanan mereka pun berbeda dengan burung lokal. “Gajahan pengala memakan krustasea kecil dan cacing-cacing kecil, sementara burung lokal di Mangrove Cengkrong belum ada yang memakan jenis pakan itu. Jadi mereka tidak mengganggu ekosistem maupun burung lokal,” terang David.
Ia menambahkan, sebelum kembali ke negara asal, burung migran akan mengumpulkan energi sebanyak mungkin. “Mereka seperti mengisi bahan bakar dulu. Berat tubuhnya bisa sampai dua atau dua setengah kali lipat, lalu mereka siap kembali ke daerah asal untuk berkembang biak,” ujarnya.
Burung gajahan pengala. (ist)
David juga mengungkapkan, ada kemungkinan sebagian kecil burung migran tinggal lebih lama di daerah persinggahan. “Biasanya itu burung remaja yang dulu ikut induknya bermigrasi. Kadang mereka belum kembali satu sampai dua periode, tapi pada akhirnya tetap akan kembali ke daerah asal untuk berkembang biak,” katanya.
Ia menegaskan, burung migran sebaiknya tidak ditangkap karena tidak berkembang biak di wilayah migrasi. “Mereka tidak berkembang biak di tempat migrasi. Mereka hanya berkembang biak di daerah asal. Jadi sebaiknya tidak ditangkap dan tidak dicoba untuk dikembangbiakkan di sini,” tegasnya.
David pun mengimbau masyarakat agar menjadi tuan rumah yang baik bagi burung migran. “Kami berharap masyarakat membiarkan burung-burung migrasi menikmati sumber pakan alaminya, cukup didokumentasikan dan dicatat. Itu sudah sangat berarti untuk ikut melestarikan mereka,” ucapnya.
Dari hasil pemantauan, kata David, warga sekitar Pantai Cengkrong justru menyambut baik kehadiran burung-burung tersebut. “Warga bercerita tidak ada perburuan. Mereka malah senang dengan hadirnya burung-burung itu. Trinil pantai mereka sebut ancul bumi kecil, sedangkan gajahan pengala disebut ancul bumi besar,” pungkasnya. (*)