22 January 2026

Get In Touch

Dispendik Surabaya Ajak Wali Murid Ikut Awasi Gawai Anak

Dispendik Surabaya melakukan sosialisasi pembatasan gawai pelajar.
Dispendik Surabaya melakukan sosialisasi pembatasan gawai pelajar.

SURABAYA (Lentera)- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik), terus menggencarkan sosialisasi pembatasan penggunaan gawai dengan melibatkan langsung para orang tua siswa sebagai garda terdepan pengawasan anak.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, melakukan sosialisasi pembatasan penggunaan gawai di SMP Negeri 44 Surabaya, Selasa (20/1/2026). Sosialisasi tersebut diikuti ratusan wali murid sebagai bagian dari penguatan peran keluarga dalam pengawasan penggunaan gawai pada anak.

Febrina mengatakan, sebelumnya Dispendik telah menyosialisasikan kebijakan pembatasan gawai kepada Komite Sekolah. Namun, agar kebijakan tersebut benar-benar dipahami secara substansial, Dispendik merasa perlu turun langsung bertemu para orang tua siswa.

“Saya yakin Komite sudah menyampaikan ke orang tua, tetapi belum tentu secara substansi benar-benar dipahami. Karena itu kami membuat kelas-kelas seperti ini agar Dispendik dan kepala sekolah bisa bertemu langsung dengan orang tua,” kata Febrina.

Menurutnya, sosialisasi pembatasan gawai akan terus digulirkan ke seluruh SD dan SMP se-Kota Surabaya. Tujuannya agar orang tua mendapatkan pemahaman yang sama mengenai teknis pengawasan dan pembatasan penggunaan gawai pada anak.

“Pemerintah tidak bisa mengandalkan sekolah sendirian. Di sekolah ada guru, di rumah ada orang tua. Minimal orang tua bisa mengecek gawai anaknya. Jika ada hal yang harus diwaspadai, orang tua bisa berkoordinasi dengan sekolah maupun Dispendik,” jelasnya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya ini menuturkan pentingnya pengawasan rutin dari orang tua. Ia tidak ingin kejadian ekstrem seperti kasus pengeboman yang dilakukan pelajar SMA di Jakarta beberapa waktu lalu terjadi di Kota Pahlawan.

“Pak Wali Kota Eri Cahyadi juga sudah mengimbau, ayo kita selamatkan anak-anak Surabaya dari penggunaan gawai yang tidak sehat. Teknologi tidak bisa dihindari, tapi penggunaan dan pengawasannya harus dilakukan bersama oleh orang tua, sekolah, dan pemerintah,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak para orang tua untuk menjadi sahabat bagi anak-anaknya agar terbangun komunikasi yang terbuka. Dengan begitu, anak tidak segan menceritakan aktivitasnya di dunia digital.

Selain itu, orang tua dibekali pengetahuan mengenai situs internet yang dilarang diakses anak, termasuk pengenalan gambar, simbol, hingga aplikasi yang berpotensi berbahaya.

“Kalau orang tua mengecek HP anaknya lalu menemukan gambar atau aplikasi yang mencurigakan, setidaknya mereka sudah waspada. Kalau HP anak di-password, kami ajarkan cara berkomunikasi yang tepat, karena privasi anak dan orang tua harus berjalan berdampingan,” ujarnya.

Febri menekankan, efektivitas kebijakan ini bergantung pada keselarasan antara pemerintah, sekolah, dan orang tua. “Kota harus kompak. Pendidik dan orang tua harus satu frekuensi,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu wali murid SMP Negeri 44 Surabaya, Weni Tatia Ningsih, mengaku terbantu dengan adanya sosialisasi tersebut. Ia merasa mendapat wawasan baru mengenai fungsi media sosial dan aplikasi yang digunakan anak.

Hal senada disampaikan wali murid lainnya, Kamila. Ia mengaku akan lebih ketat mengawasi penggunaan gawai anak setelah mengikuti sosialisasi tersebut.

“Kalau saya, akun HP anak saya pantau lewat HP saya. Jadi aktivitas WhatsApp maupun pencarian di Google bisa saya ketahui. Artinya, pengawasan selalu ada,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.