12 January 2026

Get In Touch

Trump Rencanakan Aksi Militer, Iran Siap Melindungi Diri

Presiden AS Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump.

SURABAYA (Lentera) - Gelombang protes di Iran tidak lepas dari perhatian Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Belakangan ini dilaporkan dia tengah menimbang berbagai opsi strategis untuk mendukung gelombang protes di Iran sekaligus meningkatkan tekanan terhadap kepemimpinan di Teheran. Bahkan, kemungkinan akan ada aksi militer yang lebih terarah.

Axios dan sumber yang dihimpun Iran International pada Minggu (11/1/2026) melaporkan bahwa Washington telah memulai mobilisasi alutsista dalam jumlah besar ke wilayah Timur Tengah selama sepekan terakhir. Pergerakan aset militer ini diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang sebagai persiapan menghadapi eskalasi di Iran.

Selain itu juga ada opsi lain yaitu langkah-langkah pencegahan seperti pengumuman pengerahan gugus tempur kapal induk, serangan siber, serta operasi informasi yang secara khusus menargetkan pemerintah Iran. Strategi ini dirancang untuk melumpuhkan rezim tanpa harus memicu perang terbuka yang tidak terkendali.

"Banyak pihak dalam pemerintahan Trump percaya bahwa tindakan kinetik besar pada tahap ini justru akan melemahkan gerakan protes," ujar seorang pejabat AS dalam laporan tersebut seperti yang dikutip cnbcindonesia.

Terkait keterlibatan sekutu terdekat AS, sumber internal menyebutkan kemungkinan keterlibatan Israel. Namun demikian, Israel hanya akan terlibat aktif setelah aksi militer Amerika Serikat dimulai. Keterlibatan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pun dibatasi pada syarat tertentu.

Israel dilaporkan hanya akan melancarkan serangan jika Republik Islam Iran menyerang wilayah mereka terlebih dahulu atau menunjukkan indikasi kuat akan adanya niat serangan dalam waktu dekat.

Sementara itu, militer Iran menegaskan bakal membela kepentingan nasional negara tersebut, di tengah meningkatnya aksi unjuk rasa anti-pemerintah, penangkapan demonstran, dan pemadaman internet secara massal sejak akhir pekan kemarin.
Dalam pernyataan yang dirilis Sabtu (10/1/2026) lalu, militer Iran menuduh Israel dan "kelompok teroris yang bermusuhan", berupaya merusak keamanan publik Iran.

"Angkatan Darat, di bawah komando Panglima Tertinggi, bersama dengan angkatan bersenjata lainnya, selain memantau pergerakan musuh di wilayah tersebut, akan dengan tegas melindungi dan menjaga kepentingan nasional, infrastruktur strategis, negara, dan harta benda publik," demikian bunyi pernyataan tersebut, dilansir Al Jazeera.

Peringatan ini muncul saat pemerintah dan otoritas keamanan Iran berupaya meredam demonstrasi terbesar di negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Protes massal di Iran kali ini dipicu oleh akumulasi sanksi ekonomi "tekanan maksimum" yang melumpuhkan mata uang Rial, ditambah dengan kembalinya Trump ke kebijakan keras terhadap program nuklir Teheran.

Ketidakpuasan rakyat Iran terhadap melonjaknya harga kebutuhan pokok dan pembatasan kebebasan sipil menjadi pemantik demonstrasi besar-besaran yang kini dihadapi rezim pemimpin tertinggi. Meski begitu, Teheran menuduh pihak asing seperti Israel dan AS berada di balik kerusuhan

Di sisi lain, jumlah korban jiwa akibat tindakan represif aparat Iran dikabarkan terus meningkat. Pejabat Israel dan AS meyakini angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi daripada 116 jiwa yang dilaporkan oleh Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia. (*)


Editor : Lutfiyu Handi / Berbagai Sumber

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.