01 September 2025

Get In Touch

Akibat Tembakan Gas Air Mata, 17 Massa Aksi Dilarikan ke IGD RSSA Kota Malang

Penembakan gas air mata di depan Mapolresta Malang Kota, Jumat (29/8/2025) malam. (dok. ist/tangkapan layar Malangrayainfo)
Penembakan gas air mata di depan Mapolresta Malang Kota, Jumat (29/8/2025) malam. (dok. ist/tangkapan layar Malangrayainfo)

MALANG (Lentera) - Kericuhan antara aparat kepolisian dan massa aksi pecah di depan Mapolresta Malang Kota pada Jumat (29/8/2025) malam. Situasi semakin memanas ketika gas air mata yang ditembakkan aparat sampai halaman Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 17 orang dari peserta aksi terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSSA. Informasi itu disampaikan langsung oleh Kasubag Humas RSSA Malang, Dony Iryan Vebry Prasetyo.

Dony memastikan, meski gas air mata sempat masuk ke area rumah sakit, tidak ada pasien maupun keluarga pasien yang terdampak langsung. "Gas air mata sempat masuk area, namun alhamdulillah tidak ada (pasien) yang terdampak langsung," ujarnya, dikonfirmasi melalui pesan singkat, Sabtu (30/8/2025).

Menurutnya, kericuhan hanya terjadi di sekitar Mapolresta Malang Kota dan Jalan Jaksa Agung Suprapto. Tidak ada aksi perusakan maupun kerugian yang sampai mengenai fasilitas RSSA. "Tidak ada kerusakan imbas unjuk rasa," tambahnya.

Namun, dari sisi medis, pihak RSSA menerima 17 pasien rujukan dari massa aksi yang terkena dampak gas air mata. Sebagian besar mengalami iritasi mata akibat paparan gas.

Dony menjelaskan, dari jumlah tersebut, 15 orang telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan. Sementara dua orang lainnya masih menjalani perawatan lanjutan. 

"Ada 17 pasien yang masuk IGD RSSA semalam, namun pagi ini tinggal 2 orang. Untuk 1 orang masih observasi di IGD, 1 orang masuk rawat inap untuk perawatan selanjutnya," ungkapnya.

Untuk diketahui, RSSA sendiri berada tepat di seberang Polresta Malang Kota, lokasi massa aksi menggelar demonstrasi. Hal ini membuat rumah sakit tersebut ikut terdampak meski tidak menjadi sasaran langsung bentrokan.

Sebagai informasi, aksi yang berlangsung di Kota Malang tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap aparat kepolisian. Massa terdiri dari pengemudi ojek online (ojol) dan sejumlah elemen masyarakat sipil.

Mereka memprotes keras tindakan aparat pasca meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojol yang tewas terlindas kendaraan taktis (Rantis) Brimob di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

 

 

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.