
JAKARTA (Lentera) -Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengkritik anggota DPR yang meliburkan diri di saat rakyatnya melakukan demo ke Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
Padahal, peserta aksi itu sebenarnya merupakan rakyat yang mereka wakili.
"Aneh juga DPR kita ini ya. Hanya karena warga berunjuk rasa, itu dijadikan alasan untuk berlibur. Enak banget, mengambil kesempatan cuti ketika didatangi peserta aksi yang adalah rakyat mereka sendiri," ujar Lucius, Kamis (28/8/2025).
Lucius menyampaikan, belum tentu juga para peserta aksi bakal memaksa masuk ke ruangan kerja atau kompleks DPR.
Bagi masyarakat, kata dia, sikap DPR ini lagi-lagi mengonfirmasi langsung bagaimana kualitas wakil rakyat.
"Orang-orang yang mewakili rakyat justru menjadikan kehadiran rakyat sebagai alasan untuk tidak bekerja," ucapnya.
"Padahal salah satu misi kehadiran rakyat untuk menyaksikan langsung (kalau memungkinkan) kerja berat seperti apa DPR kita, sehingga mereka minta tunjangan yang tinggi dan fasilitas yang luar biasa," sambung Lucius.
Lucius menjelaskan, DPR selama ini beralasan bahwa tunjangan-tunjangan yang diberikan kepada mereka diperuntukkan memfasilitasi kerja-kerja DPR yang sibuk dan beragam.
Namun, semua itu tampak seperti klaim saja bagi rakyat, karena ternyata anggota DPR bisa sesantai hari-hari ini ketika didatangi pedemo.
"Mereka sesuka hati meliburkan diri, mempersingkat agenda rapat, dan lain-lain. Pantesan hasil kinerja DPR juga jeblok. Dan tentu saja kemarahan rakyat persis karena tingkah DPR yang malas mengikuti rapat, sering izin, seringkali bolos, hingga hasil kerjanya sangat minim," jelasnya, dikutip Kompas.
Dengan begitu, Lucius mengatakan, pengakuan DPR bahwa mereka bekerja serius tak bisa dipercaya lagi.
Dia menilai, seharusnya inilah waktunya DPR menunjukkan komitmen di hadapan publik untuk menunjukkan bahwa mereka bekerja serius untuk rakyat.
Bila perlu, mereka mengizinkan pengunjuk rasa untuk langsung bertemu dengan anggota DPR di ruang rapat.
"Tapi ya rupanya wajah DPR sesungguhnya ya, wajah yang tampil viral sedang berjoget ria pada pidato kenegaraan 15 Agustus lalu. Usulan wajah DPR. Wajah yang bisanya hanya bersenang-senang saja tanpa perlu bekerja terlalu serius," papar Lucius.
Lucius menyatakan, rakyat dan wakil rakyat kini kian berjarak.
Hanya saja, menurutnya, anggota DPR sendiri yang menciptakan jarak itu.
"Oleh karenanya, jika ingin meraih kembali kepercayaan rakyat, pilihan satu-satunya ya dengan menunjukkan keseriusan bekerja, transparan dalam hal penggunaan uang negara, akuntabel dalam pelaksanaan reses baik terkait kegiatan maupun anggarannya," imbuhnya.
Rapat hanya dihadiri 2 orang
Badan Legislasi (Baleg) DPR menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) membahas Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) pada Kamis (28/8/2025) di tengah aksi demonstrasi yang digelar di luar Kompleks Parlemen, Jakarta.
Pengamatan di lapangan, rapat tersebut dimulai setelah massa aksi dari kelompok buruh berangsur-angsur meninggalkan depan Gedung DPR/MPR RI, tepatnya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
Namun, rapat itu berlangsung sepi. Dari puluhan anggota Baleg, terlihat hanya dua orang yang hadir secara fisik di ruang rapat, yakni Wakil Ketua Baleg DPR RI, Martin Manurung, dan Alimudin Kolatlena dari Fraksi Gerindra.
Dari daftar absensi, tercatat nama Melati dari Fraksi Gerindra hanya memberikan keterangan izin, sedangkan anggota Baleg lainnya tidak memberikan keterangan kehadiran (*)
Editor: Arifin BH