
JAKARTA (Lenteratoday) - Penampilan sangat penting bagi wanita, dan juga tak kalah krusial bagi pria. Terutama jika mereka ingin menarik perhatian satu sama lain. Ketika membahas penampilan, wajah tampan adalah salah satu hal yang paling menarik bagi wanita.
Namun, selain wajah, faktor-faktor lain seperti tubuh yang ideal, penampilan yang berkarisma, dan daya tarik juga sangat berperan penting.
Setiap wanita pasti menyukai pria yang menarik secara visual, meskipun setiap orang memiliki standar tersendiri tentang pria tampan.
Bagi wanita, melihat wajah tampan bukan hanya sekadar hiburan visual.
Sebaliknya, melihat sesuatu yang indah dapat meningkatkan perasaan bahagia dan menyegarkan kembali suasana hati saat merasa bosan atau lelah.
Melihat wajah pria tampan dan wanita cantik ternyata bermanfaat untuk menstimulus dan kesehatan otak. Penelitian menunjukkan melihat wajah nan tampan dan cantik dapat membuat orang lebih termotivasi untuk bekerja keras dan lebih baik dalam ingatan.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Evolutionary Psychology melakukan dua eksperimen untuk mengetahui pengaruh melihat wajah pria tampan dan wanita cantik terhadap otak.
Wajah Tampan/Cantik Memicu Daya Ingat Lebih Kuat
Peneliti dari East Carolina University ini meneliti 58 mahasiswa. Setengah dari partisipan itu diminta untuk melihat wajah lawan jenis selama tujuh detik. Setengah lainnya diminta untuk melihat wajah lawan jenis yang tampan dan cantik.
Peserta lalu diberikan sebuah cerita dan kemampuan mereka lalu diuji dengan tes mengingat sebagai acuan mengukur fungsi otak. Hasilnya, peserta yang menatap wajah yang menarik dapat mengingat lebih banyak dan lebih detail dibandingkan dengan peserta yang menatap wajah yang biasa saja.
Secara khusus, penelitian ini mendapati pria jauh lebih terpengaruh oleh wajah cantik jika dibandingkan dengan wanita. Para pria cenderung mengingat lebih detail.
Kecantikan/Ketampanan Dapat Memotivasi Seseorang
Dalam eksperimen selanjutnya, peneliti menganalisis 123 mahasiswa. Metode penelitian kurang lebih sama dengan sebelumnya, hanya saja pada kali ini peneliti mengubah urutan penelitian.
Kelompok pertama dimulai dengan melihat wajah yang menarik, mendengar cerita, melihat wajah rata-rata, dan mengikuti tes memori. Kelompok kedua memulai dengan melihat wajah rata-rata, mendengar cerita, melihat wajah yang menarik, dan mengikuti tes memori. Dan kelompok ketiga, hanya melihat wajah rata-rata sebelum dan sesudah mendengar cerita, lalu mengikuti tes ingatan.
Hasilnya, peneliti menemukan wajah pria tampan dan wanita cantik dapat memicu kemampuan seseorang menjadi lebih tajam untuk mengesankan pasangannya.
"Memori adalah proses kognitif dasar yang terkait dengan keterampilan bertahan hidup yang penting," kata peneliti dikutip dari Medical Daily.
Di sisi lain, melihat wajah orang yang berpenampilan rata-rata tidak memicu seseorang untuk bekerja lebih keras. Penelitian mengklaim melihat wajah pria tampan atau wanita cantik ternyata lebih bermanfaat untuk kesehatan otak.
Cara Otak Bekerja Saat Melihat Rupa Manusia
Sebuah hasil penelitian berjudul Perception and Deception: Human Beauty and the Brain (2019) oleh Daniel Yarosh seorang Independent Technology Advisor, Cosmetics, Beauty & Dermatology telah menjelaskan cara otak dalam mengidentifikasi kecantikan/ketampanan pada orang.
Otak menggunakan setidaknya tiga modul dalam melihat rupa yakni untuk daya tarik wajah, untuk interpretasi dan untuk penilaian. Penelitian ini mengungkap bahwa sebanyak 919 studi dari 15.000 pengamat setuju bahwa setiap orang bisa menilai siapa yang lebih menarik.
Penilaian daya tarik fisik tertanam dalam genetika manusia, kemungkinan besar ditetapkan pada tahap awal evolusi. Bahkan, bayi berusia enam bulan bisa lebih lama menatap wajah orang dewasa yang lebih menarik.
Penilaian rupa diproses pada bagian lobus otak. Bagian tersebut juga digunakan dalam menilai seni visual lain.
Tubuh manusia secara selektif dipersepsikan di lobus temporal oleh area tubuh ekstrastriata (EBA) dan area tubuh fusiform (FBA). Selain pada lokus, plastisitas otak dapat memanggil daerah lain untuk berpartisipasi dalam penilaian.
Co-Editor: Nei-Dya