04 April 2025

Get In Touch

Awal Puasa 2025 Bareng, Lebaran Berpotensi Berbeda

Tahun ini umat Islam berpotensi mengawali puasa Ramadan serentak tetapi berbeda pada Hari Raya Idul Fitri. Foto/kemenag
Tahun ini umat Islam berpotensi mengawali puasa Ramadan serentak tetapi berbeda pada Hari Raya Idul Fitri. Foto/kemenag

JAKARTA (Lenteratoday) - Tak terasa Ramadan tahun ini sudah semakin dekat. Kalender Hijriyah Global Tunggal 1446 Hijriah yang digunakan Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1446 Hijriah atau awal puasa Ramadan 2025 jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Idul Fitri atau 1 Syawal 1446 H jatuh pada Minggu, 30 Maret 2025.

Sementara Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2025 yang dirilis Kementerian Agama memprediksi 1 Ramadan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025 tetapi 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.

sumber: Instagram muhammadiyah

Dari sini sudah tampak kemungkinan besar mayoritas masyarakat Indonesia akan mulai puasa pada hari yang sama, tetapi mengakhiri Ramadan di hari yang berbeda. Meski begitu, bisa jadi situasinya sama awal Ramadan maupun Idul Fitri. Atau, sama-sama mengawali puasa Ramadan dan merayakan Idul Fitri di hari berbeda.

Awal Ramadan dan 1 Syawal pada kalender pemerintah masih bersifat perkiraan. Penetapan awal Ramadan tergantung pada penampakan hilal (bulan sabit), yang ditetapkan oleh keputusan lembaga resmi, Kementerian Agama.

Pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan. Sidang melibatkan para ulama, ahli astronomi, serta pihak-pihak terkait dengan menggunakan data hasil rukyat denngan kriteria MABIMS.

Dilansir dari brin,go.id, MABIMS merupakan kriteria baru penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal yang ditetapkan oleh Menteri Agama dari empat negara. Kriteria ini baru dipakai di Indonesia pada 2022, khususnya pada penentuan awal Ramadan dan hari raya 1443 H.

Pada kriteria baru ini, ketentuan tinggi hilal minimal terlihat 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Hal ini lebih tinggi dari ketentuan sebelumnya yang berdasarkan tinggi hilal minimal 2 derajat dan elongasi atau jarak sudut bulan ke matahari minimal 3 derajat serta umur bulan minimal 8 jam.

KHGT Memberikan Kepastian

Ketua Biro Komunikasi dan Pelayanan Umum PP Muhammadiyah, Edy Kuscahyanto, menjelaskan, penetapan tanggal-tanggal penting pada KHGT didasarkan pada perhitungan ijtimak yang akurat dan tepercaya, merujuk pada data astronomi global.

”Penggunaan KHGT memberikan kepastian dan menghilangkan keraguan di kalangan umat Islam terkait penentuan awal bulan-bulan penting dalam kalender Hijriah,” kata Edy Kuscahyanto dalam keterangan pers, Selasa (7/1/2025).

Detail perhitungan ijtimak dalam KHGT yang menjadi dasar penetapan Ramadhan dan Syawal adalah ijtimak akhir bulan Syakban 1446 H terjadi pada Jumat, 28 Februari 2025, pukul 00:44:38 GMT.

Setelah melalui proses perhitungan yang mempertimbangkan posisi hilal dan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan melihat hilal), maka disimpulkan bahwa awal Ramadan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Data yang dirujuk menunjukkan bahwa pada Jumat, 28 Februari 2025, pukul 14:43:34 GMT di Kota Ais Yaman, posisi hilal teramati dengan ketinggian (T) 5° 42′ 57″ dan elongasi (E) 8° 00′ 22″.

Menurut Edy, pemakaian KHGT adalah langkah strategis untuk meningkatkan akurasi dan konsistensi dalam penetapan awal bulan kamariah.

Dia menerangkan, KHGT merupakan hasil kajian mendalam dan komprehensif dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang telah mempertimbangkan berbagai faktor ilmiah dan metodologi.

Dia menuturkan, penetapan ini telah melalui proses kajian yang panjang dan matang, melibatkan para ahli astronomi dan pakar hisab di lingkungan Muhammadiyah.

Sumber: Muhammadiyah, Tempo | Editor : M. Kamali

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.