05 April 2025

Get In Touch

Psikolog Ungkap Rahasia Membuat Resolusi yang Realistis

Ilustrasi
Ilustrasi

JAKARTA (Lenteratoday) - Awal tahun kerap dijadikan momentum untuk menyusun resolusi tahun baru. Namun, tidak semua orang memahami skill membuat resolusi yang realistis. Psikolog menyarankan masyarakat membuat resolusi 2025 yang lebih realistis agar tidak bikin stres dan kecewa bila tak tercapai.

Tahun baru 2025 sudah di depan mata dan diramalkan akan berat secara finansial bagi banyak orang. Menghadapi situasi ini, psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Nirmala Ika, menyarankan masyarakat membuat resolusi 2025 yang lebih realistis agar tidak bikin stres dan kecewa.

“Ketika membuat resolusi, penting untuk melihat kondisi yang ada dan menetapkan target yang terukur serta relevan dengan kebutuhan,” kata Ika, Selasa, 31 Desember 2024.

Menurutnya, resolusi yang terlalu ambisius tanpa mempertimbangkan kenyataan dapat memicu frustrasi dan tekanan mental. Karena itu, perhatikan beberapa hal berikut.

Skala prioritas untuk resolusi 2025

Ia menjelaskan pentingnya membuat skala prioritas dalam menentukan resolusi. Misalnya, jika resolusi tahun depan adalah pergi liburan, pertimbangkan urgensinya.

“Apakah liburan ini hanya karena ikut-ikutan tren atau memang diperlukan untuk mengisi ulang energi dan mempererat hubungan keluarga? Jika liburan tidak krusial, mungkin dapat ditunda atau diganti dengan alternatif yang lebih terjangkau,” saran Ika.

Contohnya, jika rencana awal adalah pergi ke Bali yang perlu anggaran besar, bisa menggantinya dengan destinasi lokal yang lebih dekat dan ramah biaya, seperti Bogor atau Puncak. Dengan begitu, tujuan liburan tetap tercapai tanpa membebani keuangan.

Terukur dan realistis

Ika juga mengingatkan agar resolusi 2025 tidak sekadar berupa keinginan yang tidak dianalisis. “Misalnya, seseorang ingin ke Jepang karena teman-temannya sudah pernah ke sana. Tapi, apakah kondisi finansial dan pekerjaan memungkinkan? Jika tidak realistis, keinginan ini justru akan menjadi beban,” jelasnya.

Menurutnya, resolusi yang baik seharusnya seperti rencana kerja dalam sebuah perusahaan, yaitu memiliki tujuan jelas, langkah-langkah terukur, dan dapat dievaluasi.

Hindari stres dengan ulasan pencapaian

Salah satu cara mengurangi stres akibat resolusi adalah dengan mengulas pencapaian di tahun sebelumnya. “Kadang kita merasa tidak mencapai apa-apa. Padahal jika melihat kembali mungkin kita sudah melakukan banyak hal yang signifikan,” ungkapnya.

Misalnya, jika resolusi tahun sebelumnya adalah rutin berolahraga. Meskipun belum mencapai berat badan ideal, upaya seperti berjalan 10 ribu langkah setiap hari tetap merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.

Jangan hilang harapan di tengah prediksi yang berat

Ika mengingatkan prediksi mengenai 2025 hanyalah gambaran kemungkinan, bukan kepastian. “Setiap orang memiliki rezeki dan cara bertahan hidup masing-masing. Penting untuk tetap optimis dan melihat peluang di tengah tantangan,” ujarnya.

Dengan menerapkan skala prioritas, menetapkan target yang realistis, dan mengulas pencapaian, orang dapat menghadapi tahun 2025 dengan lebih tenang dan percaya diri. Resolusi tidak perlu menjadi beban tetapi justru menjadi panduan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Resolusi juga bukan sekadar daftar keinginan melainkan peta jalan menuju perubahan yang lebih baik. Dengan membuat target yang realistis, menetapkan prioritas, dan merefleksikan pencapaian, kita bisa menjadikan 2025 bukan sebagai beban melainkan peluang untuk bertumbuh.

Jangan lupa, di tengah tantangan yang mungkin datang, harapan selalu ada. Ika menyarankan untuk tetap optimis dan jadikan setiap langkah berarti dalam perjalanan menuju versi terbaik diri.

Pentingnya Resolusi Tahun Baru

Resolusi tahun baru sering dianggap sebagai peluang untuk memulai segalanya dari awal. Psikolog Nadya Pramesrani menyatakan bahwa resolusi lahir dari ketidakpuasan terhadap kondisi saat ini serta keinginan untuk menciptakan perubahan positif. Momen pergantian tahun menyediakan dorongan psikologis yang kuat, memotivasi individu untuk mengevaluasi diri dan menetapkan langkah baru yang lebih baik.

Prinsip Utama dalam Merancang Resolusi

  1. Spesifik dan Terukur

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, dikutip dari Antara, menekankan pentingnya membuat tujuan yang spesifik dan terukur. Alih-alih hanya menargetkan “gaya hidup sehat,” seseorang dapat menetapkan tujuan lebih konkret, seperti “berolahraga tiga kali seminggu” atau “membaca dua halaman buku setiap hari.” Resolusi yang jelas memudahkan individu dalam memantau progres mereka, sehingga tujuan lebih mungkin tercapai.

  1. Realistis dan Berdasarkan Prioritas

Sebelum membuat resolusi, penting untuk mempertimbangkan kondisi pribadi dan menetapkan tujuan yang realistis. Psikolog klinis Nirmala Ika menyarankan agar resolusi disesuaikan dengan prioritas kehidupan. Sebagai contoh, jika fokus utama saat ini adalah pengembangan karier, maka target kesehatan mungkin perlu disesuaikan agar tetap realistis tanpa menjadi beban.

  1. Dukungan Sosial

Keterlibatan orang-orang terdekat dapat berperan besar dalam keberhasilan resolusi. Mendiskusikan tujuan dengan keluarga atau teman tidak hanya memberikan motivasi tambahan, tetapi juga menciptakan akuntabilitas. Dukungan sosial ini berfungsi sebagai pendorong dan pengingat, terutama saat motivasi mulai berkurang.

Strategi untuk Mencapai Resolusi

  1. Refleksi dan Bersyukur

Sebelum menetapkan resolusi baru, penting untuk merefleksikan pencapaian tahun sebelumnya. Menghargai hal-hal positif yang telah diraih dapat memberikan perasaan optimis dan kesiapan untuk menghadapi tantangan baru.

  1. Fokus pada Langkah Kecil

Resolusi besar sebaiknya dipecah menjadi target-target kecil yang mudah dikelola. Penelitian menunjukkan bahwa langkah kecil yang konsisten lebih efektif dalam menjaga motivasi dan membantu individu merasakan pencapaian secara bertahap.

  1. Menulis Resolusi

Menuliskan resolusi di tempat yang mudah terlihat berfungsi sebagai pengingat visual dan alat evaluasi. Dengan mencatat tujuan, individu dapat menyesuaikan rencana sesuai perkembangan dan kebutuhan.

  1. Menghindari Sikap Menyalahkan Diri Sendiri

Kegagalan adalah bagian dari proses. Ketika resolusi tahun baru tidak berjalan sesuai rencana, penting untuk tidak menyalahkan diri secara berlebihan. Sebaliknya, adopsi pola pikir positif dan pembelajaran dari kesalahan dapat membantu individu bangkit dan melanjutkan usaha untuk mencapai tujuan.

Co-Editor: Nei-Dya

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.