
JAKARTA (Lenteratoday) - Yos Suprapto baru-baru ini menjadi perbincangan publik karena pameran tunggal bertajuk “Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan” di Gedung A Galeri Nasional ini dibatalkan beberapa menit sebelum pembukaan.
Siapakah Yos Suprapto?
Yos Suprapto adalah pelukis kelahiran Surabaya pada 26 Oktober 1952. Ia merupakan pelukis yang terkenal dengan karya-karya bertema kritik masalah sosial, politik, dan budaya. Ia dapat menggambarkan adegan secara gamblang, tetapi penuh makna simbolis yang abstrak. Kepeduliannya terhadap isu sosial dan lingkungan sudah tercermin sejak dahulu. Sebab, ia pernah terlibat sebagai aktivis mahasiswa yang menentang rezim Orde Baru (Orba). Ia juga pernah menjadi kontributor majalah bawah tanah Independen pada Orba sebagai illustrator halaman sampul.
Berdasarkan umn.ac.id, Yos juga beberapa kali menggelar pameran yang mengangkat isu lingkungan dan kritik sosial, seperti “Bersatu Dengan Alam”, “Barbarisme: Perjalanan Anak Bangsa”, dan “Arus Balik Cakrawala 2017”.
Pameran lukisan yang dilakukan Yos hampir semuanya menunjukkan ekspresi keprihatinan atas kondisi bangsa yang mulai terpecah. Selain itu, pameran Yos juga menjadi kritik terhadap pemerintah yang korupsi, penuh pencitraan, dan tidak jujur. Pada pameran “Arus Balik Cakrawala 2017”, Yos mengkritik praktik adu domba yang tercermin dalam sebuah lukisannya berjudul Adu Domba. Melalui lukisan ini, ia menggambarkan ciri masyarakat sekarang yang suka adu domba untuk kekuasaan politik.
Selain itu, Yos juga menggambarkan harapan bagi bangsa Indonesia melalui lukisannya. la melihat ada harapan untuk Indonesia kembali bangkit dan menjadi bangsa yang berjaya seperti dahulu. la menggambarkan harapan tersebut dengan memberi warna-warna optimis sebagai lambang harapan dalam beberapa lukisannya.
Salah satunya adalah lukisannya yang bertajuk “Arus Balik”. Melalui lukisan ini, Yos menggambarkan nelayan yang sedang melaut sebagai rakyat Indonesia harus kembali menghidupkan budaya kemaritiman karena menjadi kekuatan vital bangsa menuju kemakmuran.
Karya-karya Yos Suprapto mendapatkan apresiasi dari para tokoh budayawan. Mereka menilai Yos sebagai sosok yang berani lantang melalui karya. Yos pernah mengadakan pameran bertajuk “Republik Udang” sebagai kritik yang ditujukan pada praktik korupsi pemerintahan Soeharto. Namun, melalui karya-karya ini, nyawa Yos juga sempat terancam. Meskipun beberapa pihak menentangnya, karya-karya Yos memiliki pesan dan makna yang kuat.
Nah pada tahun 2024 ini, Yos juga mencoba untuk kembali menggelar pameran tunggal dengan tajuk “tunggal 'Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan' di Galeri Nasional Indonesia”. Pameran ini dijadwalkan berlangsung tanggal 19 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025.
Namun, pameran tunggal tersebut sementara harus ditunda atau dibatalkan. Adapun alasan dibatalkannya pameran tersebut karena Suwarno Wisetrotomo selaku curator Galeri Nasional Indonesia tidak berkenal dengan beberapa lukisan Yos.
Menurut Suwarno, beberapa lukisan Yos tidak mencerminkan tema yang disediakan oleh Galeri Nasional Indonesia. Sampai saat ini, belum diketahui kapan pameran tunggal Yos Suprapto akan kembali digelar.
Karya Lukis Banyak Bertema Kritik Sosial dan Lingkungan
Mengutip makalah Martinus Dwi Mariano dari ISI Yogyakarta, Yos Suprapto adalah pelukis asal Yogyakarta yang terkenal dengan karya-karya bertema eco-sosial, politik, dan budaya. Ia dikenal memadukan simbolisme dan gaya realisme sosial ala seniman Taring Padi dengan sapuan kuas khas Yogyakarta era 1980-an.
Karya-karya Yos sering kali berisi pesan-pesan tentang ekologi, kemanusiaan, dan isu sosial, menggunakan warna-warna provokatif seperti hitam, merah, dan hijau untuk menciptakan daya visual yang kuat. Teknik ini mencerminkan gaya simbolisme surealis yang mengangkat isu-isu kontemporer Indonesia.
Sebagai seniman yang karyanya sering dipamerkan di dalam dan luar negeri, Yos memiliki reputasi sebagai suara yang berani dalam dunia seni rupa, membawa isu-isu penting melalui medium seni.
Ada 5 Karya yang Tak Boleh Dipajang
Pameran tunggal Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia awalnya dirancang untuk menampilkan tema kedaulatan pangan dan budaya agraris. Acara ini telah direncanakan sejak 2023 dengan tema awal "Bangkit!" sebelum diubah menjadi "Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan."
Namun, menjelang pembukaan, terjadi konflik antara kurator dan seniman terkait lima karya yang dianggap tidak sesuai dengan tema pameran. Karya-karya ini, yang dianggap membawa kritik sosial tajam, ditolak oleh kurator sehingga memicu perselisihan.
Puncaknya, kurator Suwarno Wisetrotomo memutuskan untuk mundur, sementara pihak Galeri Nasional memilih menunda pameran demi menjaga keselarasan kuratorial. Insiden ini berujung pada pembatalan acara secara keseluruhan.
"Saya tidak mau lagi berurusan dengan Galeri Nasional dan Kementerian Kebudayaan,” kata Yos, mengutip Liputan6.
Kelima Karya Menggambarkan Sosok Populer di Indonesia
Kelima karya yang menjadi alasan konflik kurasi disebut-sebut menggambarkan sosok populer di Indonesia dan mengangkat isu-isu yang sensitif secara politik. Yos Suprapto menilai penolakan ini sebagai bentuk ketakutan berlebihan dari pihak kurator.
Menurut Yos, karya tersebut dirancang untuk menyampaikan pesan tentang perjuangan sosial dan pentingnya refleksi terhadap situasi politik nasional. Penolakan kurator terhadap karya-karya ini dianggap tidak menghormati kebebasan berekspresi dalam seni.
"Saya rasa itu ekspresi kurator yang takut secara berlebihan," kata Eros Djarot, yang membuka acara.
Co-Editor: Nei-Dya