04 April 2025

Get In Touch

Tokoh Muslimat NU Kabupaten Blitar Tegaskan Netralitas dan Tidak Bawa Nama Lembaga Dalam Berpolitik

Tokoh Muslimat NU Kabupaten Blitar, Hj. Afidah.(foto:ist)
Tokoh Muslimat NU Kabupaten Blitar, Hj. Afidah.(foto:ist)

BLITAR (Lenteratoday) - Salah satu tokoh Muslimat NU Kabupaten Blitar menegaskan jika anggota maupun pengurus bebas menggunakan hak pilihnya, namun harus netral dan tidak membawa nama lembaga dalam berpolitik.

Seperti disampaikan tokoh Muslimat NU Kabupaten Blitar, Hj. Afidah bahwa secara pribadi, setiap anggota maupun pengurus Muslimat NU Kabupaten Blitar bebas menggunakan hak pilihnya maupun melakukan kampanye pada Pilkada Kabupaten Blitar 2024.

"Namun, tidak boleh membawa lembaga dalam keberpihakan kepada salah satu pasangan calon (Paslon) kepala daerah," tegas Hj. Afidah ketika ditemui wartawan di rumahnya belum lama ini.

Lebih lanjut Hj, Afidah yang sudah 60 tahun aktif di Muslimat NU Kabupaten Blitar menjelaskan kalau sikap netralitas dalam politik praktis, seharusnya tidak lagi menjadi persoalan bagi badan otonom perempuan Nahdlatul Ulama Kabupaten Blitar ini.

"Keputusan ini telah dimusyawarahkan pada Pilkada sebelumnya, di mana sembilan orang tokoh Muslimat NU Kabupaten Blitar atau dikenal sebagai Tim 9, menyatakan kesepakatannya bahwa Muslimat NU Kabupaten Blitar bersikap netral," jelasnya.

Namun, bagaimana implementasinya termasuk adanya aksi dukung-mendukung Paslon, Hj. Afidah mengungkapkan bahwa urusan tersebut merupakan tanggung jawab personal pengurus di tingkat atas.

“Memang hasil musyawarah Muslimat NU Kabupaten Blitar di salah satu hotel di Blitar, Bu Luki (Ketua Muslimat NU Kabupaten Blitar Hj.Nyai Masluchi Saifulloh) mengatakan bebas. Kalau mau menjadi tim sukses dan berkampanye silakan, tapi tanggalkan baju Muslimat. Waktu kita bermusyawarah di Graha NU juga begitu, di pengajian-pengajian juga begitu sebelumnya dikatakan bebas. Tapi kita tidak tahu, ada angin apa yang berhembus sampai terjadi perubahan," sesalnya.

Menurut Hj. Afidah semua itu dinamika, tapi pihaknya yakin kalau anggota Muslimat NU yang di bawah sampai tingkat ranting, semuanya pandai-pandai dan mereka punya sikap sendiri.

"Saya sudah puluhan tahun berkhidmat berjuang di Muslimat NU hingga bisa mendirikan PAC Wates dan PAC Wonotirto, lebih mengurusi kegiatan sosial dan pengajian bagi saya itu adalah surga,” terang Hj. Afidah.

Penegasan tokoh sepuh Muslimat NU ini merupakan salah satu wujud keprihatinan, karena adanya praktik politik praktis yang membawa nama lembaga Muslimat NU Kabupaten Blitar.

Dimana secara terang-terangan, Ketua Muslimat NU Kabupaten Blitar, Hj. Nyai Masluchi Saifulloh menyatakan dukungannya kepada pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Blitar nomor 1, Rijanto-Beky Herdihansah (Rizky) pada Pilkada 2024.

Bahkan Nyai Masluchi mengaku sudah mensosialisasikan dukungan ini sampai ke tingkat akar rumput di bawah, hal ini disampaikan ketika menghadiri Konsolidasi PCNU Kabupaten Blitar di Pondok Pesantren Al Falah, Desa Jeblog, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar pada 31 Oktober 2024 lalu.

Adapun alasannya selain adanya pakta integritas antara Paslon Rizky dengan PCNU, juga syarat pada Pilgub Jatim 2024 harus mendukung calon pilihan Muslimat NU yakni Khofifah Indar Parawansa.

Hal ini tentu bertentangan dengan realita dukungan politik yang ada, antara di Pilbup Kabupaten Blitar dan Pilgub Jatim 2024. Dimana Paslon Rizky yang diusung PDIP, PAN dan Nasdem, dipastikan bakal mendukung Paslon Cagub Jatim nomor urut 3, Risma-Gus Hans yang diusung PDIP.

Reporter: Ais/Editor: Arief Sukaputra

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.