05 April 2025

Get In Touch

Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Bakal BikinMuseum Musik, Sastra, hingga Museum Anak Indonesia

Fadli Zon. (ist)
Fadli Zon. (ist)

JAKARTA (Lenteratoday) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon memaparkan sederet program kerja untuk memajukan kebudayaan Indonesia di domestik maupun di kancah global.


Dalam paparan programnya di Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR RI pada Rabu (6/11/2024), Fadli memaparkan akan menjalankan program di dalam Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLUMCB), untuk mengembangkan museum baik milik negara, milik daerah, maupun swasta.


Fadli menyebutkan, saat ini sudah ada 18 museum dan 32 cagar budaya yang tercatat dalam BLU MCB, termasuk di dalamnya juga ada Candi Borobudur Candi Prambanan dan lain-lain.
Lebih lanjut, Kementerian Kebudayaan akan melakukan kajian revitalisasi serta ingin mendigitalisasi koleksi-koleksi yang ada di museum.

"Kajian ini nanti membahas bagaimana ada standarisasi terhadap museum, baik museum milik pemerintah, provinsi, maupun museum-museum milik swasta, dan perorangan dan mendigitalisasi koleksi yang ada di museum dengan narasi-narasi yang ada, dan repatriasi benda bersejarah atau cagar budaya," jelasnya.


Selain melakukan revitalisasi, digitalisasi, dan rencana repatriasi dari aset-aset budaya yang masih ada di tangan negara lain, Fadli juga ingin membentuk sederet museum baru, di antaranya museum musik, museum sastra, museum sejarah Islam, dan museum anak Indonesia.


"Karena tidak ada museum musik sekarang ini, kecuali yang swasta di Jawa Timur ya, tapi dalam skala nasional harapannya itu nanti bisa menampung karya dan artefak-artefak baik itu lokananta maupun yang lain-lain, baik dalam bentuk vinyl, dan juga kaset-kaset, dan sebagainya, karena ini juga harta karun dan di sini banyak musisi," ungkapnya.


Kedua, adalah membangun Museum Sastra. Fadli mengungkap, museum ini sudah mulai dirintis meskipun tidak melalui APBN, melainkan hasil kerjasama dengan komunitas.


Dalam museum sastra nantinya akan ada artefak dari para penulis, penyair, mesin tiknya, kacamata, tulisan-tulisan tangannya, puisi-puisi, dan drama-dramanya.


"Saat ini karya dari Asrul Sani dan lain-lain sudah berada di situ," imbuhnya.
Ketiga, museum PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) yang sebenarnya sudah ada tapi lama belum berfungsi di bawah Kemendikbudristek.


"Kita akan mencoba untuk meresmikan ini supaya bisa berjalan, karena ini juga rencananya ini juga kerja sama dengan 7 Kementerian lembaga. Nanti ada Kementerian Pertahanan dan lain-lain. Tapi ini bisa menjadi kick-off," jelasnya.


Keempat, museum peradaban Islam, melihat Indonesia sebagai negara muslim yang terbesar di dunia.


"Museum ini nanti untuk menjelaskan bagaimana masuknya Islam ke Indonesia, karena ini agak unik dan khas, dan juga kisah-kisah kerajaan-kerajaan, kesultanan-kesultanan dari Samudera Pasai, Demak, Cirebon, Walisongo, dan lain-lainnya belum ada. Akulturasi Budaya dengan budaya-budaya sebelumnya, ada wayang, keris ini menarik, jadi ini saya kira kita juga perlu adakan, bekerja sama dengan komunitas, private sector, dan bahkan internasional," ujarnya.


Terakhir, membangun museum anak Indonesia, sebagai salah satu amanat dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), untuk menunjukkan budaya Indonesia lewat permainan-permainan tradisional dan lain-lain.


Profil Fadli Zon
Fadli Zon lahir pada 1 Juni 1971 di Jakarta. Ia pernah menempuh pendidikan di SMA Negeri 21 Jakarta Timur, kemudian berlanjut ke Harlandale High School Texas, Amerika Serikat pada 1989-1990.


Ia menempuh pendidikan S1 Kajian Rusia di Universitas Indonesia. Fadli Zon kemudian melanjutkan pendidikan Magister Studi Pembangunan di London School of Economics and Political Science (LSE) di Inggris Raya. Ia meraih gelar Doktor Sejarah Pemikiran Ekonomi Universitas Indonesia pada 2016.


Semasa kuliah S1, Fadli Zon sempat menjadi Ketua Biro Pendidikan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) 1992-1993. Ia juga pernah menjadi Sekretaris Umum Senat Mahasiswa FSUI pada 1993 dan Ketua Komisi Hubungan Luar Senat Mahasiswa UI pada 1993-1994.


Di luar kampus, Fadli Zon pernah menjadi Sekretaris Jenderal dan Presiden Indonesian Student Association of International Studies (ISAFIS) pada 1993-1995. Ia juga menjadi pengurus pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Gerakan Pemuda Islam, dan anggota Asian Conference on Religion and Peace (ACRP).


Karier politiknya dimulai ketika ia menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI periode 1997-1999. Ia juga pernah menjadi Ketua Partai Bulan Bintang (PBB) periode 1998-2001.
Kemudian pada 2008, Fadli Zon menjadi salah satu pendiri Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama Prabowo Subianto. Melalui partai tersebut, Fadli Zon berhasil menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019.


Ia juga pernah menjadi Pelaksana tugas (Plt.) Ketua DPR RI dua kali yaitu 2015-2016 dan 2017-2018.


Sampai saat ini, Fadli Zon masih menjadi anggota Globalise Resistance sejak 2002. Ia juga menjadi anggota Association of the Study of Ethnicity and Nationalism (ASEN), LSE, dan Development Studies Institute Alumni Association LSE.


Di samping itu, Fadli Zon juga mendirikan Fadli Zon Library di Jakarta Pusat, Rumah Kreatif Fadli Zon di Depok, Rubah Budaya di Aie Angek Sumatera Barat, dan menjadi Dewan Pembina Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aia Angek.

Co-Editor: Nei-Dya

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.