05 April 2025

Get In Touch

Dampak 'Sound Horeg' Bagi Pendengaran Bisa Tuli Permanen

Ilustrasi sound horeg di salah satu daerah di Jatim.(foto:ist/Kompas)
Ilustrasi sound horeg di salah satu daerah di Jatim.(foto:ist/Kompas)

JAKARTA (Lenteratoday) - Memasuki musim karnaval dan pawai Agustusan yang identik dengan hiburan musik dari sound horeg, perlu diperhatikan dampak dari suara yang terlalu keras dan membahayakan bagi pendengaran.

Sound horeg adalah rangkaian sound system besar, yang mengeluarkan getaran suara sangat keras dan menggelegar. Getaran itu bisa membuat 'horeg' atau menggetarkan bangunan rumah. Volume sound horeg, dinilai mengganggu masyarakat sekitar. Suara tingkat kebisingan yang dihasilkan dari sound horeg disebut bisa mencapai lebih dari 135 desibel (dB).

Di beberapa daerah, dampak dari suara sound horeg selain suara kerasnya mengganggu warga, bahkan ada yang sampai menyebabkan kerusakan bagian rumah.

Batas toleransi kebisingan yang ditangkap pendengaran manusia menurut Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) RSCM Jakarta, Tri Juda Airlangga mengatakan batas toleransi telinga manusia menangkap suara bising bergantung pada durasinya. Umumnya, suara bising 85 dB dapat ditangkap telinga manusia selama 8 jam dalam sehari.

Namun, durasi tersebut dapat menjadi lebih singkat jika volume suara kebisingan lebih besar. Hal itu mengacu pada Kepmenaker No. per-51/ MEN/ 1999, ACGIH, 2008 dan SNI 16-7063-2004 adalah 85 dB untuk pekerja yang sedang bekerja selama 8 jam per hari atau 40 jam perminggu.

"Kalau suara kebisingan 88 dB itu maksimal 4 jam. Kalau 91 dB itu cuman 1 jam. Kalau 135 dB ya paling cuma 1-2 menit itu. Sekenceng itu," kata Tri, Rabu(14/8/2024).

Oleh karena itu, sebenarnya telinga manusia hanya bisa menoleransi suara sound horeg dalam hitungan menit. Menurut Tri, suara 135 dB itu setara dengan suara mesin pesawat saat sedang diparkirkan. Pada saat itu, seorang petugas parkir pesawat bahkan harus menggunakan air plug dan headphone untuk mengatasi suara bising tersebut.

Mendengar suara terlalu keras apabila melebihi batas yang bisa ditoleransi, Tri mengatakan daya fungsi telinga akan menurun. Bahayanya lagi, penurunan fungsi pendengaran itu sering kali bersifat permanen.

"Kalau melebihi batas, pendengarannya akan turun dan biasanya itu irreversible atau tidak bisa balik lagi," jelasnya.

Ia menerangkan ketika telinga manusia mendengar suara bising lebih dari batas yang ditoleransi, rumah siput di dalam telinga akan rusak. Jika hal itu terjadi, gangguan pada sistem pendengaran sukar kembali normal.

Dalam penelitian yang pernah dilakukannya, Tri menemukan penggunaan headset terlalu lama dalam sehari bisa mengganggu sistem pendengaran yang ditandai dengan telinga berdenging.

"Biasanya mereka akan mengalami telinga berdenging dulu. Kemudian kita cek, pendengarannya masih baik, tapi rumah siputnya sudah terganggu," kata dia.

Dalam dunia medis, kondisi tersebut disebut noise injury and mission lost yang menjadi tanda adanya gangguan pada sistem pendengaran. Telinga berdenging umumnya terjadi hilang dan timbul. Artinya, suara denging akan menghilang ketika yang bersangkutan sedang berbicara secara aktif. Namun, suara itu akan kembali terdengar, bahkan semakin keras ketika yang bersangkutan sedang diam.

Suara denging tersebut tentu akan mengganggu aktivitas, jika terjadi dalam jangka waktu yang panjang misalnya insomnia atau sulit tidur.

Apabila telinga terlalu lama mendengar suara kebisingan, Tri menyarankan untuk segera mengistirahatkan indera pendengaran Anda. Namun, jika dalam sehari atau dua hari, suara denging tersebut masih terdengar dan mengganggu, ada indikasi bahwa rumah siput di dalam telinga sudah rusak. Oleh sebab itu, segera periksakan kondisi kesehatan sistem pendengaran Anda ke pihak medis.

"Kalau suara denging enggak hilang, berarti rumah siput itu sel-selnya sudah terganggu dan enggak bisa dibenerin lagi. Kita hanya bisa menjaga agar sel-sel lainnya tidak ikut rusak," kata dia.

Jika hal tersebut dibiarkan, pendengaran seseorang akan semakin menurun. Misalnya, seseorang jadi sukar mendengar huruf mendesis, seperti huruf "S" atau "T". "Misal suara 'rumah sakit', ia dengernya 'rumah kit'," tandasnya.

Dalam kondisi ini, seseorang masih bisa mendengar tetapi dengan frekuensi tertentu.

Sumber: Kompas/Editor: Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.