04 April 2025

Get In Touch

Cium Hidung Sumba, Romantika Tukar Udara untuk Hidup Penuh Kasih Sayang

Jordan (t-shirt putih) dari desa Karang Indah, Kecamatan Kodi Balaghar dan Mike (t-shirt hijau) dari Kecamatan Kodi Utara saling cium hidung saat keduanya bertemu di sebuah acara pertemuan di Weetabula, Kabupaten Sumbawa Barat Daya, Nusa Tenggara Timur
Jordan (t-shirt putih) dari desa Karang Indah, Kecamatan Kodi Balaghar dan Mike (t-shirt hijau) dari Kecamatan Kodi Utara saling cium hidung saat keduanya bertemu di sebuah acara pertemuan di Weetabula, Kabupaten Sumbawa Barat Daya, Nusa Tenggara Timur

KOLOM (Lenteratoday) -Hampir delapan tahun tinggal di Klimbu Ngaa Banga, Weetabula di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, aku merasa Bahasa simbolik penduduk pulau ini tidak ada habisnya. Salah satunya adalah cium hidung.

Cium hidung adalah ciuman dengan cara menyentuhkan ujung hidung dua manusia, tidak hanya antara laki laki dan perempuan, tapi bisa juga antara dua pria, perempuan dengan perempuan, orang tua dengan anak anak.

Ciuman ini dilakukan saat ada upacara kelahiran, pesta ulang tahun, ibadah, pertemuan sanak saudara atau berbagai aktivitas lain.

Awalnya aku yang terbiasa dengan kebiasaan cium pipi (cheek kiss) bila bertemu dengan sanak saudara atau teman, mengalami kebinggungan juga saat pertama berciuman hidung.

Bahkan jengah saat seseorang menyodorkan hidungnya untuk dicium, apalagi bila yang menyodorkan hidungnya adalah lawan jenis atau pria – mohon maaf dengan bibirnya yang merah karena kebiasaan makan sirih pinang.

Membaca berbagai referensi dari Google dan Wikipedia, ternyata cium hidung ini tidak hanya di dilakukan oleh orang Sumba saja atau orang dari Pulau Sabu dan Timor di Provinsi Nusa Tenggara Timur atau warga Pulau Kisar.

Tradisi ini ternyata membentang sangat luas sejak di Pulau Madagaskar di sLautan Hindia hingga Hawai di Pasifik serta di Mongolia dan di Arab. Lebih jauh lagi Suku Inuit di Eskimo juga melakukan cium hidung.

Secara umum referensi itu menyebutkan bahwa tujuan cium hidung yang dalam Bahasa Inggris sering disebut sebagai Eskimo Kiss ketimbang nose kiss itu untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian di antara mereka.

Namun, referensi umum dari Google dan Wikipedia yang dianggap sebagai sumber informasi paling popular saat ini kurang memuaskanku, hingga dalam sebuah kesempatan saya bertemu dengan beberapa orang tua dari beberapa etnik yang ada di kabupaten ini.

Ada tiga etnik besar yang dianggap sebagai penduduk asli di Kabupaten Sumba Barat Daya, yaitu Loura yang mendiami wilayah pesisir utara. Kodi yang tinggal di pesisir utara barat dan Selatan serta Wewewa yang mendiami daerah pegunungan di sisi timur.

Selain tiga etnik itu ada juga orang Bima, Flores, Sabu, Rote, dan berbagai etnik lain dari Indonesia.

Menurut mereka, manusia hidup memerlukan udara untuk bernafas, hanya orang yang mati tidak memerlukan udara.

Alat pernafasan manusia adalah hidung. Menyentuhkan ujung hidung di antara dua manusia merupakan simbol pertukaran nafas untuk saling berbagi suka duka dan saling mengisi kehidupan dengan kasih sayang.

Cium hidung adalah langkah awal yang baik dan romantik untuk saling memperbarui persaudaraan di antara orang Sumba.

Bila terjadi konflik di antara mereka, cium hidung juga merupakan langkah bijak untuk menyelesaikan persoalan mereka. Karena di antara yang bersitegang telah saling mengetahui dan menghargai hakekat ciuman ini.

Jadi, tidak ada yang merisaukanku tinggal di Sumba!

Penulis: Eko Wienarto, Wartawan Senior -dari Sumba Barat|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.