07 April 2025

Get In Touch

Analisis Pakar Kehutanan UB, Dampak Pembangunan IKN terhadap Keberlanjutan Hutan Indonesia

Dosen Kehutanan UB, Rifqi Rahmat S.Hut, M.Si. (foto/ist.dok.Humas UB)
Dosen Kehutanan UB, Rifqi Rahmat S.Hut, M.Si. (foto/ist.dok.Humas UB)

MALANG (Lenteratoday) - Sejumlah pakar dari Universitas Brawijaya (UB) baru-baru ini mengadakan diskusi yang membahas dampak pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) terhadap keberlanjutan hutan Indonesia.

Diskusi ini dipimpin oleh Dosen Kehutanan UB, Rifqi Rahmat S.Hut, M.Si, yang juga aktif dalam Komunitas Manajemen Hutan Indonesia (KOMHINDO).

Menurut Rifqi diskusi tersebut berfokus pada analisis terhadap perubahan signifikan dalam luas hutan di sekitar kawasan IKN, yang turun dari 37 persen pada tahun 2019 menjadi 29 persen pada tahun 2023.

"Menurut definisi dalam Peraturan Menteri Kehutanan P14 tahun 2004, hutan adalah lahan dengan luas minimal 0,5 hektar ditumbuhi pepohonan dengan tutupan tajuk minimal 30 persen dan ketinggian minimal 5 meter," ujar Rifqi.

Dalam hal ini, Rifqi menyoroti bahwa penurunan luas hutan tersebut secara langsung berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan aktivitas manusia. Yang semakin hari semakin mengancam, keberadaan hutan di kawasan IKN.

"Dalam konferensi internasional, deforestasi merupakan isu krusial yang terus ditekan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Misalnya, Uni Eropa telah menekan produk sawit Indonesia karena kaitannya dengan deforestasi," tambahnya.

Lebih lanjut, Rifqi menekankan perlunya evaluasi mendalam terhadap dampak lingkungan dari proyek-proyek besar seperti IKN. "Jika perencanaan dan konsepnya sudah matang, dampak lingkungan dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan," jelas Rifqi.

Tak hanya itu, dikatakannya, diskusi ini juga menyoroti meskipun konsep IKN sebagai Smart Forest City dengan delapan prinsipnya terlihat baik di atas kertas, namun implementasinya masih jauh dari harapan. Hal ini juga dikonfirmasi oleh jurnalis Farid Gaban yang turut hadir dalam diskusi tersebut.

"Melalui diskusi ini, para pakar berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah strategis. Untuk memastikan bahwa pembangunan IKN tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi dan sosial, tetapi juga memprioritaskan keberlanjutan lingkungan, terutama dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia yang semakin terancam," pungkasnya.

Sebagai informasi, diskusi ini juga dihadiri oleh Direktur Wahana Lingkungan Hidup, Wahyu Eka Setyawan, yang juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan hutan dalam konteks pembangunan IKN.

Reporter:Santi Wahyu/Editor:Ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.