06 April 2025

Get In Touch

Tradisi Penggunaan Uang Baru untuk THR, Pakar : Bentuk Rasa Syukur

Ilustrasi uang baru untuk THR (Pixabay)
Ilustrasi uang baru untuk THR (Pixabay)

SURABAYA (Lenteratoday) - Tunjangan Hari Raya (THR) identik dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia, selain itu THR juga erat dengan tradisi penggunaan uang baru. 

Tradisi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan di masyarakat Indonesia, hingga marak bermunculan jasa penukaran uang baru ketika mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Menanggapi hal itu, Djoko Adi Prasetyo Drs Msi, pakar sekaligus dosen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (Unair) mengatakan, jika tradisi pemberian uang diyakini berasal dari budaya Timur Tengah yang diadopsi oleh masyarakat Indonesia.
Ia mengungkapkan, meski sejarahnya belum tertulis dengan jelas, tetapi tradisi THR kemungkinan berasal dari perwujudan bentuk sedekah sesuai ajaran Islam.

“Beberapa catatan sejarah Kerajaan Mataram Islam, pada abad ke-16 hingga ke-18, para raja dan bangsawan biasa memberikan uang baru sebagai hadiah kepada anak-anak para pengikutnya saat Idul Fitri. Hadiah uang baru tersebut diberikan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh,” ungkap Djoko, Jumat (5/04/2024).

Djoko memaparkan dalam catatan sejarah, terungkap bahwa pertama kali budaya THR tercetus pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara. 

"Hingga saat ini, masyarakat masih mempertahankan tradisi pemberian uang baru sebagai wujud kasih sayang dan rasa persaudaraan di antara keluarga dan kerabat," tuturnya.

Terkait fenomena pergeseran kebiasaan berbagi THR karena teknologi uang elektronik, Djoko mengatakan, meskipun THR saat ini bisa berwujud uang elektronik, hal ini tidak mengurangi makna simbol tentang kesucian dan kebersihan, ucapan terima kasih, rasa hormat, rasa bangga jika bisa berbagi, serta rasa bersyukur.

“Kita juga harus paham bahwa budaya itu tidak abadi. Selama budaya itu masih ada masyarakat pendukungnya, maka budaya itu akan tetap lestari. Demikian sebaliknya, apabila masyarakat pendukung budaya tersebut sudah tidak mendukung lagi, maka budaya itu akan terkikis dan bahkan musnah,” tukasnya.

Reporter:amanah nur asiah(mg)/Editor:ais

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.