
MAKKAH (Lenteratoday) -Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyebutkan persiapan fasilitas untuk layanan jamaah haji Indonesia di Mina sudah mencapai 99 persen dan diharapkan dalam waktu dekat sudah siap digunakan.
Puncak haji akan dimulai pada 8 Zulhijah 1444 H atau 26 Juni 2023. Pada tanggal itu jamaah haji akan diberangkatkan dari Mekkah menuju Arafah.
Pada 9 Zulhijah (27 Juni), jamaah akan wukuf di Arafah lalu, malamnya ke Muzdalifah dan pada 10 Zulhijah atau 28 Juni jamaah sudah bertolak untuk mabit (bermalam) di Mina selama dua sampai tiga hari dan melempar jumrah.
Baik di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina), jamaah haji Indonesia ditempatkan di 70 maktab, tiap maktab terdiri dari sejumlah tenda besar yang memuat sekitar tujuh sampai delapan kloter.
Ikut dalam peninjauan ke Mina di antaranya Dubes RI di Saudi Abdul Aziz, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief, Irjen Kemenag Faesal, Ketua Dewan Direksi Perusahaan Masyariq Dzahabiyah M Amin Indragiri beserta jajarannya, para Staf Khusus dan Staf Ahli Menteri Agama, Konjen RI di Jeddah Eko Hartono, Konsul Haji KJRI Jeddah Nasrullah Jasam, serta jajaran Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1444 H/2023 M.
Pemerintah RI menyambut baik tambahan fasilitas 65 mobil golf yang diproyeksikan bisa membantu mobilitas jemaah haji Indonesia, terutama lansia, selama puncak ibadah haji. Baik itu untuk mengantar jemaah dari Mina ke Jamarat maupun mengevakuasi jemaah yang tersesat selama di Arafah.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan informasi terkait fasilitas mobil golf ini di sela-sela kunjungannya di Arafah, Selasa (20/6/2023) petang waktu Arab Saudi.
”Mobil golf sejumlah 65 ini bisa mengantar jemaah kita saat akan melempar jumrah, dari Mina menuju Jamarat. Tentu tidak sampai pas di Jamarat, tetapi setidaknya di titik terdekatnya,” kata Yaqut yang juga Amirul Haj, mengutip Kompas.
Kemarin (Rabu, 21/6/2023) pagi waktu Arab Saudi, Amirul Haj juga meninjau kesiapan berbagai fasilitas di Mina. Yaqut menambahkan, mobil golf mempermudah petugas haji berpatroli.
”Patroli itu semacam kontrol kita, terkait mungkin ada jemaah yang perlu pertolongan, misal tercecer dari rombongannya. Terima kasih, Mashariq, sudah menyediakan mobil golf, jumlahnya 65,” ucapnya.
Direktur Bina Haji Kementerian Agama Arsad Hidayat juga menilai keberadaan mobil golf saat puncak ibadah haji sangat membantu.
”Terutama bagi mereka yang tinggal agak jauh, seperti di Mina Jadid. Ini memudahkan dan membantu mereka karena Mina Jadid, kan, cukup jauh, ya. Ada yang mengatakan pergi-pulang itu 12 kilometer, ada yang bilang 10 kilometer,” ujar Arsad.
Apakah jumlah 65 mobil golf itu cukup berbanding anggota jemaah Indonesia yang lebih dari 200.000?

”Yang penting nilai gunanya. Kita harus jaga, rawat, dan optimalkan fungsinya untuk melayani jemaah. Jangan sampai, misalnya, pada hari-H justru ada kendala dan tidak bisa beroperasi,” kata Arsad.
Sementara itu hingga hingga Rabu (21/6/2023) sore waktu Arab Saudi, anggota jemaah Indonesia yang wafat tercatat 107 orang. Jika dibandingkan dengan data kumulatif wafat hingga hari ke-29 dari tahun ke tahun, angka kematian 2023 mendekati angka 2017, yang terdata 109 wafat hingga hari ke-29. Kemudian pada 2018 tercatat 70 wafat, lalu 61 anggota jemaah wafat pada 2019, dan 20 meninggal pada 2022, ketika kuota masih dibatasi karena pandemi Covid-19.
Kebugaran fisik jemaah saat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina menjadi keniscayaan. Mengingat, kebanyakan aktivitas dilakukan dengan berjalan kaki. Terutama, perjalanan dari tenda-tenda di Mina menuju Jamarat, yang berjarak sekitar 5 kilometer, dan harus ditempuh bolak-balik. Bahkan, dari area peluasan Mina yang disebut Mina Jadid, jaraknya bisa mencapai 6 kilometer.
Hingga Rabu kemarin, anggota jemaah haji Indonesia yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) tercatat 255 orang. Tim Kesehatan dan tim Pembimbing Ibadah kini tengah berkoordinasi untuk merealisasikan safari wukuf bagi mereka yang sakit dan sedang dirawat.
Safari wukuf merupakan wahana untuk memastikan semua anggota jemaah haji Indonesia menunaikan puncak haji meski sedang sakit.
Mekanismenya, mereka yang sakit diberangkatkan ke Arafah dengan bus dalam posisi duduk atau berbaring, tergantung dari kondisinya. Yang penting, mereka berada di Arafah setidaknya dalam dua jam, antara waktu Zuhur hingga Maghrib, pada 9 Dzulhijah 1444 H, yang jatuh pada 27 Juni 2023 (*)
Editor: Arifin BH, berbagai sumber