
MALANG (Lenteratoday) – Meskipun telah terdapat rambu-rambu yang melarang pedagang berjualan di area sekitar Alun-alun Merdeka Kota Malang, namun banyak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang masih melanggar aturan.Kepala Bidang (Kabid) Ketentraman dan Ketertiban Umum (KKU) Satpol PP Kota Malang, Rahmat Hidayat menegaskan, pihaknya akan segera melakukan penertiban PKL di Alun-alun Merdeka Kota Malang, mulai Senin (1/5/2023) mendatang.
“Yang penting intinya mulai minggu depan kita tertibkan kok, kalau mereka masih disitu, nanti kita lakukan penertiban,” ujar Rahmat, saat dikonfirmasi melalui sambungan selular, Sabtu (29/4/2023).
Rahmat menambahkan, sebelumnya pihak Satpol PP Kota Malang telah memberikan edukasi kepada para pedagang, bahwa berjualan di kawasan tertib lalu lintas (KTL) tersebut merupakan kegiatan yang melanggar aturan.
Namun, menurut Rahmat, pedagang masih memilih untuk berjualan dan bahkan protes dengan alasan di tahun-tahun sebelumnya, mereka diperbolehkan untuk berjualan.
“Kemarin sudah kami berikan edukasi bahwa mereka ini melanggar. Terus mereka protes, katanya tahun-tahun sebelumnya boleh, akhirnya ya sudahlah. Ini nuansa lebaran, kita memakluminya. Daripada nanti konflik, ya sudah. Bukan dikasih izin, siapa yang ngasih izin. Kita pinginnya ya tertib, tapi ya gimana lagi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, disinggung mengenai adanya salah satu pedagang yang mengaku dagangannya sempat disita dan harus menebus senilai Rp 200 ribu. Rahmat mengkonfirmasi bahwa hal tersebut dikarenakan para pedagang telah dikenakan tindak pidana ringan (tipiring) akibat melanggar ketentuan yang berlaku.
“Jadi itu bukan menebus, tapi memang keputusan hakim dalam tipiring, dan mereka (pedagang) dikenakan denda Rp 200 ribu. Intinya mulai Senin depan ditertibkan lagi, kemudian kami ada (personel) gabungan tanggal 3 nanti. Kalau yang bandel pasti nanti kami tipiring,” jelasnya.
Terpisah, salah satu pedagang minuman mengungkapkan, telah menjadi tradisinya untuk berjualan di area Alun-alun Merdeka, setiap momen libur lebaran. Kendati dihadapkan dengan adanya penggusuran, perempuan yang enggan disebutkan namanya ini mengaku, masih belum ada petugas yang mendatanginya selama beberapa hari berjualan di area tersebut.
“Pembeli banyak, karena kan momen lebaran. Kalau selama saya di sini, seminggu ini belum ada penggusuran, kalau tahun lalu pernah. Ini dikasih waktu sampai Senin besok. Saya jualannya di luar Alun-alun, kalau di dalam ya bisa saja tapi misal sewaktu-waktu ada petugas ya harus lari-larian,” ungkapnya.
Di sisi lain, salah satu pengunjung Alun-alun Merdeka, Arisanti, mengatakan, pihaknya tidak terlalu terganggu dengan banyaknya penjual di area taman.
Namun, ia mengimbau agar para pengunjung dapat lebih teliti apabila berkeinginan untuk membeli makanan maupun minuman di sana. Sebab, menurutnya tak jarang para penjual akan mengambil keuntungan yang sangat tinggi di momen lebaran ini.
“Dengan banyaknya penjual di sini gak terganggu sih. Cuma harus teliti kadang ada yang harganya dinaikkan jadi gak masuk akal, biasanya berapa, jadi mahal. Di sini jujur kalau yang buat gak nyaman itu adanya pengemis. Kadang sampai yang ngotot minta-minta. Ini tadi saya ketemu ada sekitaran 3 orang pengemis di dalam taman,” tutup salah satu warga Kabupaten Malang ini.(*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor:widyawati