
BATU (Lenteratoday) – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu melalui Dinas Pariwisata (Disparta) terus berupaya mengembangkan seni tradisional sebagai salah satu daya tarik bagi pengunjung .Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan, setidaknya terdapat 5 terobosan yang bakal dilakukan dalam mengembangkan potensi pariwisata melalui kesenian tradisional.
Salah satunya pembinaan dan pendampingan Sumber Daya Manusia (SDM) hingga pengembangan sarana prasarana, termasuk infrastruktur.
“Intinya ada 5 konsep yang kita lakukan. Diantaranya yakni pengembangan SDM kebudayaan, kemudian infrastruktur, fasilitasi kebudayaan, event besar, dan bulan kebudayaan di setiap bulan Juni nantinya,” ujar Arief, saat dikonfirmasi oleh awak media, Sabtu (11/3/2023).
Arief menjelaskan, pengembangan SDM penting dilakukan sebab kekuatan dan keberlangsungan suatu kesenian tradisional, berasal pada pelaku seni tersebut. Selain itu, pihaknya juga menyebutkan akan terus melakukan pengoptimalan pada kelembagaan serta kelompok seni di Kota Batu.
“Yang pertama, kami mengembangkan SDM dan kelembagaan. Jadi bagaimana kami menguatkan dari keseniannya, kelompoknya, dan sebagainya. Itu selalu kita dorong dan kita bina. Kemudian yang kedua, bagaimana kita sebagus mungkin meningkatkan infrastruktur untuk keperluan mereka dalam berpentas atau berekspresi,” lanjutnya.
Menyangkut infrastruktur, Arief menyebutkan bahwa di tahun ini, pihaknya tengah fokus dalam pengerjaan Art Center, yang dicanangkan sebagai pusat sarana para pelaku seni di Kota Batu dalam menuangkan ekspresinya. Selain Art Center, beberapa bangunan kesenian juga telah tersedia seperti Galeri Raos serta Sendratari Arjuna Wiwaha.
“Dengan adanya Galeri Raos, itu kami turut dukung pengembangannya. Kemudian Sendratari Arjuna Wiwaha. Juga, mudah-mudahan tahun ini terbangun Art Center sebagai sarana mereka untuk dapat lebih berekspresi,” terang Arief.
Dari sisi sarana prasarana pendukung, Arief juga menuturkan telah menyiapkan perlengkapan kesenian. Diantaranya yakni, kostum tari, peralatan parade bantengan, jaranan, serta peralatan pertunjukan. “Kita juga mendukung sarpras lain, misalnya seperti kostum tari-tarian. Peralatan untuk bantengan, jaranan, peralatan untuk pertunjukkan, sound sytem, itu kita bantu. Yang mana agar siap sewaktu waktu untuk digunakan,” jelasnya.
Tak berhenti disitu, pengoptimalan kesenian tradisional menjadi daya tarik wisata, juga ditunjukan dengan diadakannya event-event besar secara rutin. Salah satunya yakni event Padang Bulan yang terselenggara di Sendratari Arjuna Wiwaha, Kota Batu.
“Yang tidak kalah pentingnya adalah kami mengadakan event-event besar untuk mereka. Seperti contoh, pentas Padang Bulan di Sendratari Arjuna Wiwaha. Kemudian kesenian bantengan, ada parade jaran kepang juga. Kemudian di setiap agenda Pemkot Batu, itu di awal kami selalu menampilkan seperti tari-tarian tradisional,” urainya.
Lebih lanjut, menurut Arief, keseriusan Pemkot Batu dalam mengembangkan potensi kesenian tradisional juga dicerminkan pada pemilihan bulan Juni, sebagai momen khusus yang dijadikan sebagai Bulan Kebudayaan. Dalam kurun waktu selama satu bulan tersebut, Disparta Batu akan menarik perhatian wisatawan dengan gelaran akbar, mulai dari kongres kebudayaan, pameran, bahkan lelang produk kebudayaan.
“Juga, kita menetapkan secara khusus yakni setiap bulan Juni, itu adalah bulan kebudayaan. Disana nanti ada kongres kebudayaan, ada sarasehan, diskusi kebudayaan, pameran, ada lelang produk seni, pagelaran, dan sebagainya,” pungkasnya.
Diakhir, Arief mengaku pemilihan bulan Juni disasarkan atas kesepahaman para seniman, bahwa bulan tersebut merupakan waktu yang baik untuk berkegiatan seni. Selain itu, Arief juga mengatakan bahwa di bulan Juni, telah memasuki musim kemarau sehingga pementasan seni tradisional diperkirakan dapat berjalan lancar.(*)
Reporter: Santi Wahyu /Editor: widyawati