
MALANG (Lenteratoday) –Wali Kota Malang, Sutiaji, bersama dengan jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di wilayahnya, mengunjungi dan mengurai permasalahan di Kelurahan Mergosono dan Kotalama dalam program Mingguan Temu Warga.
Dalam program yang dikemas dengan kegiatan bersepeda ini, Sutiaji menemukan beberapa permasalahan yang ada di 2 kelurahan tersebut. Mulai dari infrastruktur jalan, hingga usulan untuk dicanangkannya wilayah Mergosono dan Kotalama menjadi kelurahan Kota Tanpa Kumuh (KoTaKu).
“Masalah jalan itu pekerjaan rumahnya (Dinas) PU. Jalan di depan masjid, karena kita menyelesaikan gorong-gorong dulu. Dua hari lalu dapat postingan dilaporkan ke saya, disana ada jalan baru dibangun dua tahun. Karena gorong-gorong sering ditutup dibuat truk tebu melintas. Jadi airnya menggenang ke aspal,” ujar Sutiaji, dalam arahannya di acara Temu Warga, Balai RW Kelurahan Kotalama, Jumat (10/3/2023).
Lebih lanjut, orang nomor 1 di lingkup Pemkot Malang ini lantas mengadakan rapat koordinasi bersama para kepala OPD Kota Malang, seusai berakhirnya acara Temu Warga. Dalam hal ini, Sutiaji menjelaskan, terkait dengan persoalan jalan di kelurahan Kotalama, pihaknya akan menugaskan Dinas PUPR-PKP untuk turun langsung membenahi aspal jalan.
“Sebaik apapun (jalanannya) kalau gorong-gorong gak dibenahi, ya tinggal nunggu hari dan bulan sudah pasti rusak. Karena musuhnya aspal itu dengan air. Maka tahun kemarin dibenahi gorong-gorong, tahun ini dibenahi aspalnya,” tegas Sutiaji.
Disisi lain, Sutiaji juga menyampaikan bahwa 2 kelurahan yang dikunjunginya kali ini telah diusulkan untuk masuk pada program Kotaku. Disebutkannya, anggaran senilai Rp 26 miliar telah disiapkan dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD 2023.
“Tahun ini ada 2 kelurahan diusulkan ke Kotaku, anggarannya Rp 26 miliar di PAK. Mergosono dan Kotalama. Konsen di kota Malang tahun ini dua peta besar itu tadi. Sudah masuk prioritas. Saya nanti akan telepon ke Provinsi karena itu juga prioritas pemprov. Meneruskan keberhasilan dari Kotaku di Kayutangan dan seterusnya,” jelasnya.
Untuk diketahui, Kotaku sendiri merupakan program dari pemerintah pusat, dalam upaya mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia. Sedangkan, disinggung mengenai alasan dipilihnya 2 kelurahan tersebut, Sutiaji tidak menjelaskan secara keseluruhan, melainkan hanya menyebutkan bahwa wilayah-wilayah yang diusulkan itu, telah masuk dalam program prioritas.
“Pemilihan dua kelurahan di Kedungkandang, alasannya ya memang ini prioritas. Saya tidak menyinggung wilayah-wilayah,” cetusnya.
Tak berhenti pada masalah infrastruktur jalan dan usulan Kotaku. Pria yang menduduki kursi N1 ini juga menyebutkan, dengan adanya program Temu Warga, masyarakat dapat memanfaatkan layanan administrasi yang telah disediakan secara mobile, sehingga proses lebih efisien dan efektif.
Diantaranya seperti layanan kepengurusan administrasi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dan layanan pembayaran pajak melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
“Di Dukcapil itu tadi berada di angka 150-200, warga yang memanfaatkan layanan tersebut. Tadi di Bapenda juga gini, ada pencocokan, pembayaran di bank Jatim nya. Jadi fasilitas yang kita bawa, layanannya cukup dimanfaatkan oleh masyarakat. Partisipasi masyarakat dilihat dari tingkat kehadirannya juga sangat luar biasa. Untuk itu kami ucapkan terimakasih,” pungkas Sutiaji.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH