05 April 2025

Get In Touch

Pemkab Kediri Arahkan Seluruh Poktan Berganti ke Pupuk Organik

Bupati Hanindhito Himawan Pramana (kemeja putih) menunjuk bibit padi di salah satu demplot penggunaan pupuk organik.(Istimewa)
Bupati Hanindhito Himawan Pramana (kemeja putih) menunjuk bibit padi di salah satu demplot penggunaan pupuk organik.(Istimewa)

KEDIRI (Lenteratoday)-Mensukseskan program Desa Inovasi Tani Organik (DITO) yang dicanangkan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) menargetkan 2023 semua kelompok tani (Poktan) di Kabupaten Kediri mendapatkan penyuluhan dan beralih ke pupuk organik.

Sejak dicanangkan program DITO pada 2021, pelatihan pembuatan pupuk organik terus dilakukan kepada petani. Hingga Februari 2023 ini tercatat pelatihan telah dilakukan kepada petani di 156 desa.

"Pada 2023 ini penyuluh pertanian memiliki program penyuluhan dan sosialisasi pupuk organik kepada semua Poktan di Kabupaten Kediri," kata Plt Kepala Dispertabun Kabupaten Kediri Anang Widodo melalui Kepala Bidang Pengelolaan Pangan Rini Pudyasturi, Selasa (28/2/2023).

Di Kabupaten Kediri terdapat sekitar 1.600 Poktan. Adapun bagi Poktan yang telah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan pembuatan pupuk organik dalam program itu menyediakan tiga petak lahan sebagai demplot.

Terinci: satu petak penggunaan full pupuk kimia, satu petak full organik, satu petak menggunakan pupuk kimia maupun organik dengan perbandingan 50 persen.

Hal itu bertujuan agar petani lebih mudah membedakan hasil produksi penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik. Mengingat kesuburan tanah pada penggunaan pupuk organik harus bertahap, pendampingan dilakukan sampai masa panen dan pada musim tanam berikutnya hingga petani benar-benar bisa melakukan aplikasi secara mandiri.

"Bagi petani yang tertarik menerapkan full organik, akan dilakukan pendampingan sampai mendapatkan sertifikasi organik," ungkapnya.

Petani yang menerapkan lahan full organik di Kabupaten Kediri menyebar di tiga kluster, yakni Kecamatan Purwoasri, Kepung dan Semen dengan luasan lahan 30 hektar. Dari tiga kluster itu, dicontohkan untuk komoditas padi di Purwoasri pemasaran telah menembus swalayan di Kediri maupun pengiriman wilayah Jawa dan Bali.

Seiring peningkatan kesuburan tanah, jumlah produktivitas dikut mengalami peningkatan. Rini mencontohkan, 2022 dalam satu bulan petani organik berhasil melakukan pemasaran 700 kg beras organik dan 2023 ini dalam dua bulan terakhir tiap bulannya berhasil melakukan pemasaran beras organik 1 ton per bulan.

Petani yang telah menerapkan pertanian full organik di lahan 30 hektare itu telah mengantongi sertifikat organik. Sedang, saat ini ada penambahan 5 hektare yang tengah dalam pencatatan untuk dapat sertifikat organik dengan biaya dan pengurusan dibantu Pemkab Kediri.
"Untuk mendapatkan sertifikat organik itu harus konsisten tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida," terangnya.

Mas Dhito, sapaan akrab bupati Kediri sebelumnya menyebutkan dengan pertanian organik biaya produksi dapat ditekan karena petani tidak lagi ketergantungan dengan pupuk kimia. Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari pertanian organik tidak bisa dilakukan seketika.

Petani harus bersabar emperbaiki atau menetralisir tanah dari yang sebelumnya biasa menggunakan pupuk kimia. Pun begitu setelah berjalan dan menikmati hasil diyakini banyak petani yang tertarik beralih ke tani organik."Jadi tani organik ini enggak bisa dari kimia langsung diganti ke organik ini perlu proses yang cukup panjang," tuturnya.

Mendukung produktivitas hasil pertanian itu, Kementerian Pertanian juga mengenalkan Biosaka, hasil inovasi petani dari bahan ekstrak tumbuhan. Biosaka ini merupakan elisitor yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Dalam kunjungan ke Kabupaten Kediri pada 9 Februari 2023 lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Mas Dhito menunjukkan cara pembuatan Biosaka.

Di Kabupaten Kediri petani yang telah melakukan demplot penggunaan Biosaka diantaranya di Kecamatan Purwoasri. Petani belajar menggunakan Biosaka untuk diterapkan menunjang pertanian organik yang telah dijalankan sejak 2021.

Jaenuri, seorang petani organik Kecamatan Purwoasri mengaku telah mencoba menggunakan Biosaka dan merasakan manfaat. Berdasarkan pengalaman Biosaka tersebut mengurangi penggunaan pupuk organik padat (POP) maupun pupuk organik cair (POC). "Saat ini banyak yang tertarik mencoba, karena hasil produksi bertambah," ucapnya.(ADV)

Reporter: Gatot Sunarko/Editor:Widyawati

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.