07 April 2025

Get In Touch

Tersisa Dua, Sisi Lain Berdirinya Pabrik Gula di Sidoarjo

Tersisa Dua, Sisi Lain Berdirinya Pabrik Gula di Sidoarjo

SIDOARJO (Lenteratoday) – Sejarah panjang berdirinya pabrik gula di Kabupaten Sidoarjo menjadi cerita menarik yang melekat di tengah masyarakat. Selain tercatat sebagai sisa-sisa peradaban, nyatanya tempat ini menyimpan banyak kisah yang tak terungkap, termasuk tempat prostitusi yang kemudian menjamur.

Pabrik gula di Kabupaten Sidoarjo pertama kali didirikan sekitar tahun 1832. Pabrik gula tersebut bernama PG Candi. Dulu dikenal dengan suiker fabrique (SF) Tjandi dan SF Kremboong (PG Krembung) yang hingga kini masih aktif dan eksis bergerak di bidang agroindustri tebu.

Menurut salah satu pemerhati sejarah di Sidoarjo, Sudi Harjanto, dalam perkembangan industri gula yang gencar kala itu, membuat Belanda secara berkala membangun pabrik-pabrik gula di seluruh penjuru kota delta.

“Dulu ada sekitar 15 titik pabrik gula yang tersebar hampir di setiap kecamatan yang ada di Sidoarjo. Kala itu adalah SF Tawangsari, SF Ketegan, SF Waroe, Sf Seruni, SF Boedoeran, SF Panjoenan, SF Tjandi, SF Tangoelangin, SF Porong, SF Watoe Toelis, SF Kremboong, SF Toelangan, SF Krian, SF Balong Bendo dan SF Popoh,” ungkap Sudi, pada Jumat (28/10/2022).

Industrialisasi pabrik gula di Sidoarjo berkembang sangat pesat di jamannya. Belanda saat itu sukses menggandeng para penguasa lokal setingkat Kecamatan hingga Kabupaten di Sidoarjo untuk membuat produksi dan pengiriman gula hingga ke mancanegara yang dikirim melalui kereta bertujuan Surabaya.

Namun di sisi lain, perkembangan pabrik gula sebagai raja industry di Sidoarjo saat itu dibarengi dengan menjamurnya tempat-tempat prostitusi kelas bawah hingga menengah dikawasan pabrik.

“Makanya ada istilah ‘Ada Gula, Ada Selimut’ lebih untuk menggambarkan kondisi saat itu. Menjamurnya dunia pelacuran saat itu juga berkembang. Perpelacuran untuk kelas menengah saat itu bernama "Societet ( hanya untuk bule )." Disana rata-rata pasarnya para pekerja dari Belanda. Nah untuk pekerja kelas bawah, rata-rata ada di samping sekitarnya. PSK berasal dari daerah sekitarnya,” paparnya.

Ketua Komunitas Sidoarjo Masa Kuno itu juga menegaskan bahwa setiap ada pabrik gula di suatu daerah, maka disitu juga ada tempat prostitusi, baik untuk kalangan menengah hingga kelas bawah. “Setiap pabrik gula yang berdiri, maka dipastikan ada praktek prostitusi di sekitarnya. Artinya dulu di Sidoarjo itu ada 15 titik tempat prostitusi atau yang sekarang dikenal dengan lokalisasi,” imbuh pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah itu.

Sudi menjelaskan bahwa hubungan antara industri pabrik gula dan berdirinya tempat prostitusi tidak bisa dilepaskan. Berjalannya waktu, titik-titik prostitusi yang semula dekat dengan kawasan pabrik gula, kini mulai hilang seiring dengan tidak beroperasinya pabrik gula sebagai penyangga industri.

Sudi juga mengatakan bahwa buyarnya tempat prostitusi di Sidoarjo, saat itu salah satunya adalah mulai berdirinya Pondok Pesantren. “Jadi eranya itu ‘Ada gula, ada semut, baru ada Pesantren’. Pesantren menjadi salah satu yang menekan prostitusi di setiap kawasan pabrik gula. Selain itu, gerakan perlawanan para pekerja, santri dan masyarakat kelas bawah pada Belanda juga menjadi satu faktor bangkrut dan meredupnya dominasi Belanda sebagai penjajah kala itu,” terangnya.

Menurut Sudi, hingga saat ini pabrik gula yang masih aktif dan eksis ada di Candi dan Krembung. Untuk tempat prostitusi saat ini terdapat di tiga titik. “Setelah pabrik gula banyak yang tidak aktif, prostitusi di Sidoarjo menurut saya masih menyisakan 3 titik saat ini di Sidoarjo. Titik prostitusi tersebut juga telah ada sejak dulu ketika pabrik gula masih aktif,” pungkasnya.

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Endang Pergiwati

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.