Menapak Sejarah Dalam Lukisan, Galarindo Gelar Pameran Karya Mbah Yit di Galeri DKS Surabaya

SURABAYA (Lenteratoday) - Menapak perjalanan sejarah bisa dilakukan dengan mengunjungi situs bersejarah seperti candi, makam atau istana para raja, atau juga situs bersejarah lainnya. Namun berbeda lagi saat menikmati kisah sejarah itu melalui karya seni lukis. Tidak hanya nilai historis yang kita dapatkan, namun nilai estetika dan interpretasi pelukis pun bisa menjadi inspirasi wacana yang menarik.
Seperti sejumlah lukisan yang dipamerkan di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) pada tanggal 26 hingga 29 Agustus 2022 ini, melalui goresan tangan pelukis Suyitno atau yang biasa disebut Mbah Yit, pengunjung pameran bisa menemukan beragam wacana sejarah yang sangat menarik.
Dalam lukisan Jaran Kecak misalnya. Lukisan ini terinspirasi dari relief candi Jabung di Probolinggo. Sejak dulu hingga saat ini ada seni melatih kuda menari. Seni kuda menari ini seperti kesenian kuda lumping tak lepas dari Ken Arok. “Ken Arok sendiri bernama Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi. Rangga sendiri artinya kuda atau jaran. Jadi kesenian kuda lumping ini diapresiasikan untuk Ken Arok,” ucap Galuh dari PT Galarindo selaku penyelenggara pameran lukisan ini.
Untuk karya seni lukisan, galuh memandang perlu untuk dikelola secara professional. “Karya seni lukisan juga merupakan bentuk investasi yang menguntungkan. Artinya, bagi pelukis maupun kolektor dapat memperoleh keuntungan baik finansial maupun non finansial dari karya lukisan yang diciptakan atau dikumpulkan,” ucapnya.
"Karena itu, perlu ada pengelolaan secara professional agar keuntungan tersebut benar benar sampai kepada pelukis, koletor, maupun masyarakat sebagai penikmat benda seni tersebut," tambahnya.

Mbah Yit sendiri pelukis pelukis yang berasal dari daerah Singosari, Malang. Meski ia lahir di Banyuwangi tahun 1953, yang kemudian melakukan perjalanan kesenian, berkarya dan dipamerkan di berbagai wilayah di Nusantara. Untuk pameran kali ini, digelar dengan tajuk Nuswantara Untuk Indonesia.
Dilihat dari karya lukisannya, tampak Mbah Yit telah melakukan perjalanan ke berbagai candi di Jawa Timur. Hal ini diakui Mbah Yit. "Saya berkeliling ke candi-candi untuk menciptakan karya lukisan tema percandian ini, dari candi Singosari, candi Jago dan Kidal di Tumpang, candi Mleri di Blitar, dan candi Ghanesha. Satu lukisan maksimal sehari terselesaikan." Tutur Mbah Yit.

Dalam pameran ini, ia juga melakukan demo melukis cepat. Lukisan bung Tomo yang ia selesaikan hanya dengan 2 jam tersebut, memukau para pengunjung yang datang.
"Setiap pameran, saya selalu melakukan demo melukis cepat, dengan teknik pakai palet serta cat akrilik," ucapnya.
Selanjutnya, dirinya akan menggelar pameran di Galeri Nasional di Jakarta.
Sementara Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Krisman Hadi sangat terinspirasi dengan karya Mbah Yit.
"Belum pernah saya temukan ada bangsa yang begitu besar, kecuali orang jawa, khususnya Singosari. Konsep nasionalisme lahir disini. Dan lukisan-lukisan Mbah Yit seolah menggugah kami semua akan nilai - nilai sejarah yang patut kita teladani atau kita teruskan," ucap Krisman.
Reporter : Miranti Nadya | Editor : Endang Pergiwati