05 April 2025

Get In Touch

Dorong Communal Branding, KADIN Institute-PPLIPI Surabaya Bersinergi

Dorong Communal Branding, KADIN Institute-PPLIPI Surabaya Bersinergi

SURABAYA,LETRA.ID- Communal branding, yakni program satu merek yang bisa dimanfaatkan oleh banyak pelaku usaha, menjadi salah satu solusi yang digadang-gadang mampu mengurai permasalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal tersebut diungkapkan Direktur KADIN Institute, Dr Ir. Jamhadi, MBA.

“ Salah satu yang masih menjadi momok bagi UMKM adalah pasar yang kuat dan luas. Mewujudkan itu memang tidak mudah karena produknya harus memiliki product management, customer management dan brand management,” ujar Jamhadi di Gade Café, di komplek Pegadaian Dinoyo , Surabaya, Sabtu (14/9).

Dalam acara pertemuan rutin, Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) Surabaya tersebut, Jamhadi menjelaskan salah satu solusi untuk menciptakan produk kuat dan bisa dikelola oleh selurug warga Surabaya adalah dengan strategi communal branding.

Communal branding, yakni satu merek mulai pengembangan,pemasaran, promosi hingga pembukaan pasarnya bisa dibantu pemerintah, tetapidimanfaatkan oleh banyak pelaku usaha karena merek tersebut milik komunal.

“Kalau mau jalan sendiri-sendiri tentu butuh banyak hal,termasuk dana yang tidak sedikit. Tapi kalau dilakukan bersama-sama pasti lebihringan. Apalagi Pemkot Surabaya atau kabupaten/kota lain membantu denganmembuatkan brand bersama itu,” katanya.

Dicontohkan, ada brand ‘Batik Semanggi’ di Surabaya. Semua perajin batik dengan standard produk yang sama bisa menggunakan brand tersebut dan memanfaatkan saluran pasar yang ada. “Di data, diberi SOP kemudian dibagi, misal satu perajin berapa lembar kain per bulan atau ditarget omzet Rp 10 juta per bulan. Nah ini melibatkan seluruh perajin se Surabaya. Insyallah perkembangan UMKM lebih mudah,” jelasnya.

Terpisah, Ketua P2LIPI Surabaya, Titis Tata menyambut baik ide KADIN Institute Jatim tersebut. “ Salah satu keistimewaan komunitas ini adalah kami tidak dalam profesi yang sama, ada pengusaha, praktisi, akademisi bahkan ibu rumah tangga. Jadi dengan konsep communal branding, sangat cocok. Sebab kami sudah memiliki produsen dan potential customer dalam satu lingkup,” tuturnya.

Ke depan PPLIPI Surabaya dan KADIN Institute juga akan mensinergikan berbagai kegiatan lain mulai dari pelatihan produk, pembentukan pasar hinggga bersinergi secara B to B (Business to Business). Acara yang rutin digelar setiap bulan oleh PPLIPI ini dihadiri oleh sekitar 100 anggota dengan berbagai rangkain acara. Mulai dari beauty class, motivasi hingga fashion show. “Komunitas kami terbuka untuk semua pihak, pokoknya perempuan,” ujar Titis yang pada kesempatan tersebut juga didapuk sebagai salah satu model busana karya anggotanya.

Dalam kesempatan yang sama, Jamhadi menerima piagam dariPegadaian Wilayah Jawa Timur, sebagai salah satu pengisis acara dan mitrastrategis. Paiagam diberikan oleh, Eka Chandra salah satu penanggungjawabkegiatan dari Pegadaian Dinoyo.(dya)

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.