06 April 2025

Get In Touch

Upaya Kampung Heritage Kayutangan Bangkit dari Dampak Pandemi

Salah satu rumah yang menjadi daya tarik wisatawan di Kampung Haeritage Kayutangan Kota Malang.
Salah satu rumah yang menjadi daya tarik wisatawan di Kampung Haeritage Kayutangan Kota Malang.

MALANG (Lenteratoday) – Kayutangan sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Malang tak lepas dari dampak yang ditimbulkan Pandemi Covid-19. Kunjungan wisatawan di Kampung Heritage Kayutangan ini menurun drastis. Kini, berbagai upaya akan dilakukan untuk membangkitkan kawasan wisata tersebut.

Rudi, salah satu warga di kampung tersebut menceritakan bahwa kampung heritage Kayutangan ini resmi beroperasi tahun 2018, namun terpaksa memutuskan untuk berhenti di tahun 2020 karena pandemi.

Padahal pada saat awal pembukaan setidaknya ada 200 hingga 300 wisatawan yang berkunjung tiap harinya. “Dulu bisa 200 300an orang per harinya. Sekarang sudah sangat anjlok. Dulu bahkan ada banyak turis dari Malaysia, Swiss, Perancis, mereka sengaja datang kesini untuk nostalgia, untuk melihat bangunan asli peninggalan Belanda,” ungkap Rudi ketika ditemui di rumahnya yang juga merupakan bangunan asli peninggalan jaman dulu, Sabtu (6/8/2022).

Purwanto dan Rokim atau yang akrab dengan sapaan Iing (Rokim), juga warga asli kampung tersebut menambahkan berbagai upaya akan dilakukan untuk kembali menggaungkan nama kampung Kayutangan heritage.

“Wisatawan ini merasa rindu akan event besar di Malang yakni Malang Tempo Doeloe (MTD), sehingga ketika kampung heritage ini beroperasi, kemudian ada bentuk bangunan yang memang warisan jaman dulu, ada banyak peninggalan sejarah, itulah yang menjadi daya tarik dan mengobati kerinduan dari MTD,” ungkap Iing ketika ditemui di kediamannya yang juga menjadi salah satu daya tarik di Kampung Heritage ini, Sabtu (6/8/2022).

Pria yang kediamannya menjadi salah satu daya tarik di kampung heritage ini kemudian melanjutkan mengenai proses warga untuk kembali lagi membangkitkan potensi kampung heritage ini, misalnya dengan mengadakan event dan mulai membuat konsep event yang akan menarik minat para wisatawan.

“Kita sedang proses bangkit lagi untuk sekarang ini. Bagaimana agar kampung kami ini dapat diberdayakan kembali untuk pemulihan perekonomian warga juga. Kita sudah merencanakan untuk membuat event namun sepertinya akan ada musyawarah nantinya dengan para seniman yang mengisi event di depan (area pedestrian kayutangan heritage), terkait dengan bagaimana nanti acaranya berjalan, seperti apa acaranya, bagusnya yang bagaimana, dan lain lain yang mendukung berjalannya event nanti,” tutur Iing.

Ketika disinggung mengenai seperti apa gambaran event yang sedang direncanakan. Iing menjawab bahwa setidaknya event nanti akan memiliki tema seperti Malang Kembali 90an, Malang Kembali 80an, kemudian Komunitas-komunitas Jadul an, atau Ontel an.

“Nanti harapannya dengan kita mengundang para komunitas ini akan mengajak pengikutnya dan bisa menarik orang banyak. Dari situ kita diharuskan untuk memperkuat karakter, yakni sebagai kampung lawas basicnya heritage. Harapannya nanti event berlangsung di sepanjang kampung ini, agar bersama sama berkarya untuk membangkitkan wisata dari karakter jadul ini,” terangnya.

Lebih lanjut, Iing juga berharap agar Dinas Pariwisata dapat membantu adanya gelaran di kampung heritage ini nanti.

“Ya simbiosis mutualisme lah intinya, dinas membantu kita membuat acara, kita kenalkan malang ke masyarakat luas dengan karakter heritage dari kampung ini,” tegasnya.

“Istilahnya orang datang membawa nominal, pulang membawa kesan pesan yang bisa diceritakan ke orang banyak, cerita kenangannya dari kampung heritage yang akhirnya membuat orang lain penasaran dan datang kesini,” pungkasnya.

Dia juga menceritakan sebenarnya kawawan Kayutangan ini akan dijadikan sebagai wisata religi. Hal ini seiring dengan adanya makam Mbah Honggo Koesoemo, sosok yang dikenal sebagai perintis Kayutangan.

"Dulu ketika jaman penjajahan Belanda, Mbah Honggo kabur ke wilayah Kayutangan dan singkatnya mendirikan padepokan sederhana disini. Beliau menetap dan sampai meninggal serta dimakamkan di sini, makamnya beliau nanti ada di atas, masuk di dalam kampung,” terang Purwanto, saat ditemui di lokasi pintu masuk Kampung Heritage Kayutangan.

Purwanto juga menjelaskan bahwa sebenarnya lokasi kampung Kayutangan ini direncanakan untuk dijadikan wisata kampung religius, mengingat terdapat peninggalan padepokan dan juga makam dari Mbah Honggo.

“Kemudian setelah Dinas Pariwisata melakukan survey kesini dan dilihat banyak bangunan peninggalan jaman dulu yang punya unsur sejarah, jadinya diubah dari yang sebelumnya direncanakan sebagai wisata religius menjadi wisata kampung heritage sampai sekarang ini,” ungkapnya. (*)

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera.co.
Lentera.co.