22 October 2026

Get In Touch

Perkuat Riset dan Publikasi, Unusa Peringkat Pertama PTNU 2026

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono.

SURABAYA (Lentera)– Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil menempati peringkat pertama, dalam pemeringkatan keunggulan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) 2026.

Unusa meraih skor akhir 7,2323 dan berada di posisi teratas Klaster Elit, dalam pemeringkatan yang diumumkan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU.

Bagi Unusa, hasil ini menjadi dorongan untuk memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sekretaris Jenderal LPTNU PBNU, Dr. rer. pol. H. M. Faishal Aminuddin, M.Si. menjelaskan pemeringkatan tersebut bertujuan memetakan perkembangan perguruan tinggi dalam ekosistem NU, sekaligus mendorong peningkatan mutu secara berkelanjutan.

Proses penilaian berlangsung lebih dari tiga bulan dengan melibatkan 284 perguruan tinggi yang masuk dalam ekosistem Nahdlatul Ulama. Penilaian dilakukan berdasarkan tujuh variabel dengan bobot berbeda.

“Variabel tersebut meliputi jumlah mahasiswa aktif, aset dan ketahanan keuangan, kinerja riset dan publikasi ilmiah, jumlah guru besar dan lektor kepala, reputasi akademik, capaian alumni, serta keterhubungan dengan organisasi NU dan badan otonomnya,” jelas Faishal, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, posisi Unusa ditopang capaian pada sejumlah variabel dengan bobot penilaian besar. Jumlah mahasiswa aktif yang mencapai lebih dari 5.000 orang, kinerja riset dan publikasi di jurnal prestisius, serta pemanfaatan luaran riset menjadi beberapa faktor pendukung.

Selain itu, keterlibatan Unusa dalam pelayanan kepada NU dan anggotanya turut menjadi pertimbangan dalam penilaian.

“Jumlah mahasiswa aktif Unusa yang lebih dari 5.000 orang, capaian riset dan publikasi di jurnal prestisius, reputasi akademik yang mengesankan melalui berbagai luaran riset yang dimanfaatkan, serta hubungan intensif dalam pelayanan kepada NU dan anggotanya menjadi sejumlah faktor penting yang mendukung capaian tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LPTNU PBNU periode khidmah 2022–2026, Prof. Ainun Na’im turut menyampaikan ucapan selamat atas capaian Unusa, pemeringkatan ini dirancang sebagai stimulus agar perguruan tinggi NU terus memperbaiki kinerja dan meningkatkan kualitasnya.

Dalam skema penilaian PTNU 2026, jumlah mahasiswa aktif dan kinerja riset serta publikasi ilmiah masing-masing memperoleh bobot 20 persen. Sementara itu, jumlah guru besar dan lektor kepala serta reputasi akademik masing-masing berbobot 15 persen.

"Tiga variabel lainnya, yakni aset dan ketahanan keuangan, capaian alumni, serta keterhubungan dengan organisasi NU dan badan otonomnya, masing-masing memiliki bobot 10 persen," ucapnya.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono memaknai capaian tersebut sebagai pengingat, bahwa semangat perjuangan santri perlu diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, dan pengabdian yang berdampak bagi masyarakat.

Ia mengaitkan, semangat itu dengan warisan Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Menurutnya, bentuk perjuangan pada masa kini telah berkembang, dari perjuangan fisik melawan penjajah menjadi upaya mengatasi kebodohan, ketertinggalan teknologi, kemiskinan, dan persoalan moral.

“Jika dahulu perjuangannya bersifat fisik melawan penjajah, maka jihad modern adalah jihad melawan kebodohan, ketertinggalan teknologi, kemiskinan, dan degradasi moral. Jihad kaum santri zaman sekarang adalah mengangkat pena, menguasai sains, melakukan riset, serta mengendalikan teknologi agar membawa kemaslahatan bagi umat,” ungkapnya.

Tri Yogi menilai, perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab menerjemahkan semangat tersebut ke dalam karya nyata. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga perlu membentuk karakter yang tekun, disiplin, berintegritas, dan beradab.

“Dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang tekun, rajin, disiplin, dan beradab. Kecerdasan akademik dapat terus dilatih, apalagi dengan bantuan teknologi dan kecerdasan buatan. Namun, integritas moral, kedisiplinan, dan daya juang merupakan karakter penting yang membedakan seseorang dalam menghadapi persaingan,” tegasnya.

Dalam pengembangan institusi, Unusa menerapkan nilai GREATS, yakni Growth, Reputation, Empowerment, Advancement, Transformation, dan Sustainability. Nilai tersebut menjadi landasan pengembangan pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi Unusa, posisi teratas dalam pemeringkatan PTNU 2026 bukanlah akhir dari perjalanan. Capaian tersebut menjadi tanggung jawab untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas manfaat bagi masyarakat.

"Dalam momentum Hari Santri ini dapat menjadi pengingat bahwa keunggulan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam menjawab persoalan masyarakat dan membawa kemaslahatan bagi umat serta bangsa," tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lentera.co.
Lentera.co.